Minggu, 15 September 2019

Sudah Pernah Makan Matoa? Enak dan Menyehatkan Lho


Meski sudah sering mendengar dan membaca tentang Matoa, baru beberapa hari yang lalu saya mencicipi buah tersebut. Ini berkat seorang ibu yang membeli Matoa di kuliner Kriya Nusa 2019 di Balai Kartini. Ia mempersilakan saya ikut mencobanya.

Matoa yang dibeli, bentuknya tidaklah besar, hanya seukuran rambutan. Tetapi harganya cukup mahal di pameran tersebut. Satu kilogram sehari 50 ribu Rupiah. Padahal isinya tidak begitu banyak.

Saya mencicipi tiga butir Matoa. Saya sependapat dengan ibu yang membelinya bahwa rasa Matoa ini merupakan perpaduan antara kelengkeng dan Rambutan. Walaupun di tanah asalnya disebut Kelengkeng Papua. Ada bau harum yang mirip duren, tapi kulitnya lebih mirip buah Menteng.

Yup, Matoa adalah buah asli Papua yang baru booming beberapa tahun terakhir. Pohon Matoa termasuk dalam keluarga Sapinda Ceae dan memiliki nama latin Pometia Pinnata. Tinggi pohon bisa mencapai 18 meter, jadi termasuk pohon hutan.

Ada dua jenis Matoa, pertama adalah Matoa kelapa dan kedua adalah Matoa papeda. Matoa kelapa memiliki tekstur seperti rambutan dan kelengkeng, serta tidak lengket. Inilah jenis Matoa yang saya makan. Sedangkan Matoa papeda lebih lembek dan lengket.

Buah Matoa ini ternyata memiliki banyak manfaat dan khasiat untuk kesehatan dan kecantikan. Buah ini mengandung senyawa Flavonoid, Tanin, Saponin dan alkolind.

Manfaat untuk kesehatan, antara lain:
1. Menekan pertumbuhan bakteri. Terutama senyawa Saponin dan Tanin. Saponin mempunyai sifat anti mikroba dan menghambat pertumbuhan bakteri. Begitu pula dengan Tanin.

2. Mengatasi kanker. Karena Matoa mengandung antioksidan yang tinggi, maka mampu menangkal radikal bebas yang dapat menyebabkan pertumbuhan sel kanker.

3. Menguatkan sistem kekebalan tubuh. Dengan antioksidan tersebut, juga membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh kita.

4. Mengatasi jantung koroner. Para penderita penyakit jantung koroner bisa meringankan penyakitnya dengan mengkonsumsi buah Matoa.

5. Mengatasi stres.

Manfaat Matoa untuk kecantikan antara lain:
1. Mencegah timbulnya jerawat
2. Melembabkan kulit
3. Mencerahkan kulit
4. Melindungi kulit dari sinar UV
5. Meningkatkan kesehatan tubuh
6. Mempercantik keindahan kulit.


Rabu, 11 September 2019

Kriya Nusa 2019, Kebanggaan Bangsa Indonesia


Tahukah kalian bahwa Kriya Nusa 2019 telah digelar? Yup, pameran tentang kerajinan Indonesia dari Sabang sampai Merauke telah berlangsung sejak Rabu, 11 September hingga 15 September 2019. Lokasinya di Balai Kartini, jalan Gatot Subroto no 37, Jakarta Selatan.

Nah pameran seperti ini yang menjadi favorit saya selain pameran buku. Sebab dalam Kriya Nusa 2019, kita bisa menyaksikan kekayaan masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan budaya. Kita bangga menjadi bangsa yang besar.

Di zaman sekarang, untuk memasarkan produk Indonesia tidaklah sulit. Dengan kecanggihan teknologi informasi, menggunakan jaringan internet, maka kerajinan Indonesia bisa dikenal di seluruh dunia.

Untuk itulah kementerian Kominfo bekerja sama dengan Dekranas mengadakan acara temu netizen pada hari Senin, 9 September yang lalu. Bertempat di Kembang Goela restaurant, hadir beberapa Nara sumber yang ahli di bidangnya.

Sebagai keynote speaker adalah Widodo Muktiyo, Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik dari Kominfo. Ia menyambut baik Kriya Nusa 2019 sebagai ajang menampilkan aneka kerajinan nasional. Dengan penuh semangat, Widodo mengajak netizen untuk menyukseskan acara tersebut.



Hadir pula Triana Rudiantara, Ketua Bidang Humas, Promosi dan Publikasi Kriya Nusa. Wanita anggun ini mengeluarkan pakaian yang asli produk Indonesia. Ia menceritakan bahwa Indonesia memiliki begitu banyak jenis kerajinan yang bermutu tinggi.

Sedangkan sekjen Dekranas, Euis Saodah adalah pribadi yang sangat gaul. Ia menyapa netizen dengan panggilan akrab,"Hai Gaes". Nah, Euis berharap kaum milenial mau lebih gencar mempopulerkan kerajinan Indonesia kepada masyarakat dengan konten yang menarik dan berkualitas.

Sementara Ibu Septiana Tangkar, tidak mau kalah. Ia menunjukkan pakaiannya yang terbuat dari kain perca. Bahkan ia mengenakan ikat pinggang tradisional dari daerah Sulawesi Barat, yang digunakan untuk menaruh uang.

Banyak hal yang tidak kita ketahui sebelumnya. Misalnya, bahwa negeri Belanda yang pernah menjajah kita, sudah lama membuat buku daftar tentang berbagai kerajinan Indonesia. Masa bangsa lain lebih mengenal kebudayaan kita? Karena itu kita harus memajukan produksi kerajinan Indonesia ini.



Kerajinan Indonesia beraneka ragam. Ada kain batik, songket, tenun ikat, anyaman bambu, kerajinan kulit, dan kerajinan logam. Bahkan sebagian sudah diekspor ke mancanegara.

Tidak main-main lho, ekspor kerajinan Indonesia telah menghasilkan 1.2 juta Dolar pada tahun lalu. Jika tiap tahun meningkat, maka akan menjadi devisa yang sangat berarti bagi negara. Selain itu juga membuka lapangan kerja dan mata pencaharian bagi rakyat di setiap daerah.

Dari teman-teman yang berada di luar negeri, saya tahu bahwa orang asing sangat tertarik dengan kerajinan Indonesia. Mereka juga ingin melihat keindahan alam di Indonesia. Oleh sebab itu, merupakan peluang yang tinggi untuk meningkatkan pariwisata Indonesia.

Saya sendiri memiliki impian untuk membuat toko di Turki yang menjajakan semua produk Indonesia. Baik itu makanan maupun kerajinan tangan. Mudah mudahan suatu saat terwujud.

Penasaran? Yuk datang ke Kriya Nusa 2019 di Balai Kartini. Ada ratusan booth pameran yang menarik. 37 stand dari kementerian dan BUMN, 170 stand dari Dekranasda (34 provinsi), 25 stand individu, 8 stand mitra dan 6 stand asosiasi.

Kuy, segera ke sana bersama teman-teman atau keluarga. Jadilah orang yang bangga dengan produk buatan bangsa dan negara Indonesia.

Selasa, 10 September 2019

Belajar Tasawuf Dari Sunan Kalijaga


Bertandang ke Demak, tidak afdol jika melupakan pesarean Sunan Kalijaga. Wali yang satu ini memiliki banyak pengikut hingga sekarang. Ajaran-ajarannya tentang kehidupan sangat mendalam dan menjadi acuan, khususnya masyarakat Jawa.

Setelah ziarah ke makam Raden Patah dan keluarganya di belakang masjid agung Demak, saya dan Wardah Fajri keluar melalui lorong yang penuh dengan penjual souvernir. Kami menggunakan becak menuju makam Sunan Kalijaga yang lokasinya sekitar 5km dari masjid agung Demak.

Becak melaju dengan kencang, nyaris tanpa hambatan. Dalam waktu singkat kami sudah berada di depan gerbang makam Sunan Kalijaga. Kami kembali menyusuri gang yang dipadati pedagang UMKM. Inilah salah satu kelebihan para wali, masih bisa memberi mata pencaharian bagi masyarakat walaupun sudah lama meninggal dunia.

Sebelum memasuki area makam, kita harus melepas alas kaki di tempat yang telah disediakan. Tentu tidak boleh lupa membayar jasa penitipan. Setelah itu mengisi buku tamu dan memasukkan infaq seikhlasnya.

Area makam ini lebih luas dan banyak diisi oleh makam orang lain. Sebagian masih termasuk anggota keluarga kerajaan atau keluarga wali, sedangkan lainnya mungkin masyarakat setempat.

Kami terus menuju makam Sunan Kalijaga yang letaknya paling belakang. Makam ini tertutup, berada dalam sebuah ruangan yang dindingnya terbuat dari kayu jati. Ruangan ini hanya dibuka pada hari tertentu.

Karena kami datang pada hari biasa, pintu makam tertutup rapat, tidak bisa masuk ke dalam. Jadi kami hanya bisa melihat sekeliling makam sebagaimana peziarah yang lain. Sebenarnya, bagi yang memiliki indra keenam atau mata batin, bisa melihat penunggu makam ini adalah makhluk halus berbentuk buaya raksasa.

Ada sekelompok peziarah dari kota lain sehingga kami mengambil tempat dan duduk di belakang. Kami pun ikut mengirimkan doa kepada sang wali. Saya mengingat berbagai ajaran Sunan Kalijaga yang berusaha saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sunan Kalijaga adalah seorang sufi. Ia tidak tega membunuh makhluk Allah apapun jenisnya. Ketika dia pernah terjatuh dan menyebabkan rerumputan tercerabut, ia menangis. Sunan Kalijaga sedih karena rumput itu menjadi mati.

Pernah pula dikisahkan bahwa Sunan Kalijaga mengubah diri menjadi cacing. Hal ini membuat dia mengerti bagaimana rasanya menjadi makhluk kecil tak berdaya. Dan ini membuat ia semakin tawadhu.

Sunan Kalijaga berdakwah dengan mengenakan pakaian tradisional masyarakat Jawa, lengkap dengan blangkon. Ajaran Islam diselipkan dalam kisah wayang yang menjadi tontonan utama masyarakat Jawa di masa lalu. Dengan demikian, dakwah bisa tersampaikan secara halus dan diterima masyarakat secara baik.

Beberapa lagu berbahasa Jawa yang dibuat oleh Sunan Kalijaga mengandung filosofi yang mendalam, yaitu berupa tuntunan kehidupan. Jika kita mengikutinya, maka hidup kita akan tenteram. Salah satu lagu yang saya hafal adalah Ilir-ilir.

Sebagai kenang-kenangan, kami juga selfie di depan pintu makam yang tertutup rapat. Sebetulnya ingin berlama-lama di sana, tapi kami harus menyesuaikan dengan jadwal bis yang akan membawa kami kembali ke Jakarta.


Sabtu, 07 September 2019

Napak Tilas ke Demak Kerajaan Islam Pertama di Pulau Jawa



Setiap kali saya melakukan perjalanan mengunjungi makam para wali, Demak adalah salah satu kota yang harus didatangi. Di sini ada sejarah penting bagaimana terbentuknya kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa.

Saya dan rekan Wardah Fajri tiba di kota ini sekitar pukul dua siang, setelah menumpang bus dari Lasem. Cuaca tetap panas dan terik, kami menyambung bus dalam kota yang melewati alun-alun dan masjid raya Demak.

Masjid Demak masih berdiri dengan kokoh selama berabad-abad. Memang telah dilakukan renovasi untuk mempertahankan masjid ini, tetapi ciri khas lima pilar Soko Guru yang diberikan para wali tetap ada di dalam masjid. Ada Soko Guru dari Sunan Ampel dan juga Sunan Kalijaga.



Kami pun istirahat sejenak sambil mengenang kembali masa sejarah seputar kerajaan Demak. Slogan Demak adalah kota wali, karena menjadi pusat dakwah para wali. Selain ada pesarean pendiri Demak, ada pula makam Sunan Kalijaga.

Kerajaan Demak, semula hanya merupakan kadipaten dari kerajaan Majapahit. Seiring dengan menyurutnya kerajaan Majapahit, Demak menjadi kota yang berkembang pesat di bawah bimbingan para wali.

Pendiri kerajaan Demak adalah Raden Patah yang juga bangsawan dari kerajaan Majapahit. Kerajaan Demak didirikan pada tahun 1478 M sampai dengan 1550 M. Raden Patah mendapat pengukuhan dari Prabu Brawijaya yang secara resmi menetap di Demak dan mengganti nama menjadi Bintoro.

Saya melihat bahwa masjid ini telah diperluas. Jamaah wanita dipisahkan ke bagian sebelah kiri. Memang tidak berhubungan atau memperlihatkan benda-benda bersejarah, tapi cukup untuk menampung sekitar 200 orang.



Namun yang paling nyaman adalah teras masjid yang terbuka. Siapa saja boleh duduk istirahat di sana. Nah, di teras ini ada bedug ukuran super besar yang terbuat dari kayu jati, dengan tabuh kulit kambing. Lengkap dengan alat pemukulnya. Bedug ini lebih tinggi dari saya. Setiap waktu adzan tiba, seorang muadzin akan membunyikannya.

Makam Raden Patah ada di belakang masjid, dengan melewati pintu khusus di sebelah kanan. Di sana juga dibuat pendopo untuk tempat orang-orang yang berziarah dan mengirim doa. Jangan kaget melihat ukuran makam yang besar dan panjang karena zaman dahulu, ukuran manusia memang lebih besar. Makam Pangeran Benowo yang tampak paling panjang dan posisinya ada di samping pendopo.


Saya pun duduk di pendopo untuk mengirimkan doa kepada Raden Patah dan semua wali yang dimakamkan di tempat ini. Saya mengambil tempat di belakang karena di depan ada puluhan jamaah dari kota lain.

Di belakang makam disediakan beberapa kamar untuk penginapan. Biasanya menjadi tempat bagi orang-orang yang tasawuf dan tirakat, menyerap pelajaran dari para wali.

Sedangkan pintu keluar ada di belakang, kita bakal menyusuri lorong yang dipenuhi para pedagang souvernir, baik itu kaos atau jajanan khas kota Demak. Sebelum keluar, ada beberapa orang yang menyodorkan tempat sumbangan yang harus kita berikan seikhlasnya.

Rabu, 04 September 2019

Makan Ikan di Tengah Kota? Datang Saja ke Pesisir Seafood



Anda penggemar seafood atau semua makanan yang berasal dari laut? Jika kangen makanan ini kebanyakan orang akan meluncur ke restoran yang ada di pinggir laut. Tapi sekarang kita tak perlu bersusah payah ke pantai, karena sudah ada restoran yang menyediakan aneka jenis seafood dengan lokasi di tengah kota.

Mulanya saya tidak percaya ketika ada teman yang memberi tahu bisa mendapatkan sajian seafood yang enak dan segar di tengah kota. Apalagi nama tempat itu adalah Pesisir Seafood. Pantasnya ada di pinggir laut, kan? Ternyata saya salah, restoran itu ada di tengah kota, tepatnya di Meruya Ilir.



Pesisir Seafood memang restoran baru yang akan di launching tanggal 9 September ini. Kebetulan saya dan teman-teman blogger mendapatkan kesempatan untuk uji coba makanan yang menjadi andalan mereka. Yup, jadilah kami termasuk golongan pertama yang mencicipi masakan seafood di restoran ini.

Bertempat di lokasi yang strategis, dekat lampu merah, Pesisir Seafood memiliki area yang luas. Bangunan resto berdiri megah, dengan empat lantai. Lantai pertama dan kedua masing-masing mampu menampung 100 orang. Sedangkan lantai ketiga dan keempat kira-kira menampung 50 orang. Sedangkan area parkir mampu menampung lebih dari 100 kendaraan roda empat. Luas sekali bukan?



Bagaimana dengan makanan yang disajikan? Wah, saya menjumpai berbagai menu yang sangat bervariasi tetapi menjamin cita rasa yang lezat. Semua makanan di sini sangat memuaskan. Bikin lupa program diet karena mau nambah terus.


Nasi di restoran ini menjadi sajian istimewa. Ada nasi jeruk, yang begitu harum dengan aroma daun jeruk purut. Rasanya gurih seperti nasi uduk dengan santan kental. Saya terkesan dengan nasi bakar ikan Cakalang, yang enak sekali, ikan cakalang berpadu dengan gurihnya nasi, tidak terasa amis, malah memanjakan lidah.



Kalau tidak suka nasi bakar cakalang, bisa pilih nasi bakar jamur, tapi menurut saya kalah nikmat dengan nasi bakar cakalang. Dua nadi ini bisa pula dinikmati dengan sayuran. Ada tumis kecipir, bunga pepaya dan sebagainya.

Lalu jenis ikan yang lain apa saja? Jangan kuatir, namanya juga Pesisir Seafood, pasti lengkap jenis ikan yang ditawarkan. Saya sempat mencicipi udang balado yang maknyus. Ukurannya besar dan rasanya pas banget di lidah yang suka pedas. Kalau mau puas, ada juga lobster mutiara dan lobster bambu.




Eh, tapi masakan ikan Kwe juga tak kalah enak. Bumbunya meresap banget ke dalam ikan, cocok banget dimakan dengan nasi panas. Pilihan lain ada bandeng pucung, pindang serani, kakap putih dll.

Berbagai masakan cumi bisa dipilih sesuai selera. Ada enam jenis masakan cumi dengan bumbu yang berbeda. Kita bakal kebingungan, mana yang paling enak. Kalau saya sih, lebih suka cumi goreng atau cumi saus Padang.

Mau tahu ikan yang saya incar? Ada ikan salmon, ikan brekecek dan teri kado merah. Tapi saya juga tidak melewatkan mencicipi gulai kepala ikan yang ukurannya jumbo, bisa untuk makan sekeluarga. Rasanya sangat spesial, tidak ada dalam menu di restoran lain.



Oh ya, untuk penyegar, saya ambil minuman yang menghilangkan haus dan menggugah selera. Selain jus orange danves kelapa muda sereh, saya juga memesan es kopi susu gula aren. Nah ini bakalan jadi minuman favorit saya, bikin saya ketagihan.



Kalau perut masih belum penuh, ada kok makanan pencuci mulut yang asyik. Saya justru memilih colenak, tape panggang khas Jawa Barat yang diberi bumbu kelapa dan gula merah. Minumannya bisa kopi, teh, atau juga berbagai jenis minuman segar yang siap menyempurnakan hari anda di sini.

Jangan risau soal harga, gak bikin kantong bolong kok. Meski lokasi strategis dan makanan enak serta komplit, harganya relatif terjangkau. Ada menu yang harganya murah sekitar 20 + K, yang paling mahal sejenis lobster dengan harga sekitar 150 K.

Restoran Pesisir Seafood ini tempatnya cozy banget buat anak-anak muda. Mereka yang mau kongkow sama teman-temannya, boleh pilih tempat di lantai dua, sangat Instagramable dan ada area untuk merokok. Tapi bukan berarti lantai satu tidak menarik, lorong dan tangga saja cukup menarik untuk difoto.



Setiap sudut Pesisir Seafood, menarik untuk dilihat dan dinikmati, bahkan sampai dengan toilet yang artistik dengan mural yang nyentrik. Ada tempat-tempat yang bisa untuk privasi, ada juga yang bisa digunakan untuk rapat keluarga atau organisasi.

Yuk, kapan mau ke sini? Jangan lupa ajak pasangan, kerabat atau teman-teman. Asyik lho buat silaturahmi siapa saja.

Jumat, 30 Agustus 2019

Masjid Sunan Bonang, Megah Dalam Kesendirian



Masjid Sunan Bonang, letaknya tidak jauh dari area makam wali tersebut. Kita hanya berjalan menyusuri gang belakang makam sekitar 50 meter. Tak berapa lama masjid itu tampak menjulang di hadapan.

Memang Masjid Sunan Bonang berada di ketinggian. Entah itu bukit kecil atau gundukan tanah, yang jelas membuat masjid itu semakin megah. Kita harus mendaki sejumlah anak tangga yang tepat berada di tengah gapura.

Kami (saya dan rekan Wardah Fajri) memasuki masjid lewat pintu sebelah kanan dekat tempat wudhu. Setelah melepas sepatu, kami memasuki masjid yang sepi. Tak ada seorangpun di sana. Mungkin karena kami datang sekitar pukul 10.30, belum waktunya shalat atau penduduk masih bekerja.



Bangunan masjid 90 persen terbuat dari kayu jati dengan arsitektur klasik. Bangunan ini tampak indah, baik dilihat dari dalam maupun dari luar. Langit-langit masjid cukup tinggi, memungkinkan udara masuk dan membuat sejuk dalam cuaca yang sangat panas.

Sebuah bedug besar, dengan sisi dari kulit kambing, diletakkan di atas penopang rendah, ada di pojok belakang. Jika ditambur, suaranya pasti bergema sampai kejauhan Sekeliling masjid adalah rumah penduduk yang saling berdekatan, tampak rendah dari dalam masjid.



Sebetulnya kami ingin melaksanakan shalat Sunnah di sana, sayangnya tidak tersedia mukena atau rukuh. Saya sudah mencari di sudut ruangan, tetapi tidak menemukannya. Padahal kami tidak membawa perlengkapan shalat tersebut.

Akhirnya saya mengelilingi masjid dan memperhatikan detail dari bangunan ini. Beberapa ornamen kayu penuh dengan ukiran yang saya duga berasal dari Jepara. Menurut papan penjelasan di depan, masjid ini baru selesai direnovasi pada tahun 2016.

Langit-langit di tengah masjid, yang ada kubahnya, tergantung lampu hias yang cantik meski tidak begitu besar. Di sekelilingnya ada kaligrafi dari ayat suci Al-Quran, di antaranya adalah ayat kursi.



Masjid ini sengaja didesain separuh terbuka. Maksudnya, kayu-kayu tidak rapat dan memungkinkan angin masuk. Maklum Lasem adalah jalur Pantura yang sangat panas. Dengan desain seperti ini, membuat masjid selalu sejuk dengan aliran angin, apalagi lokasinya yang lebih tinggi dari perumahan penduduk.

Kami menikmati ketenangan masjid dengan duduk di ambang pintu. Semilir angin memang membuai, membuat enggan untuk beranjak. Saya hanya membayangkan bahwa masjid yang megah ini seperti berdiri sendirian.

Sampai kami turun meninggalkan masjid, tak seorangpun muncul atau terlihat. Ada kekuatiran menyelip di dada, jangan-jangan masjid ini sepi oleh jamaah. Alangkah ironinya jika hal itu terjadi. Kemegahan masjid harus ditelan kesunyian. Lalu bagaimana dengan ajaran peninggalan sang wali, Sunan Bonang?  Beribu tanda tanya menyerbu di kepala.

Kamis, 29 Agustus 2019

Hanyut Dalam Kesunyian yang Melangut di Makam Sunan Bonang




Senin, tanggal 19 Agustus saya dan Wardah Fajri masih berada di penginapan Kurnia Lasem. Setelah malam sebelumnya gagal melanjutkan perjalanan ke pesantren Al Anwar, tempat Mbah Moen, kami memutuskan istirahat saja sambil menyusun rencana untuk esok harinya.

Sejujurnya saya merasa bersalah jika melewati Lasem tanpa singgah di pesarean Sunan Bonang. Dan ini membuat saya merasa tidak tenang. Karena itu saya menekankan bahwa esok pagi harus mengunjungi makam salah satu dari Walisongo tersebut.

Setelah sarapan dengan menu terbatas (maklum penginapan backpacker), kami keluar sekitar pukul sembilan lebih. Sebuah bus tanggung yang sudah tampak tua menjadi tumpangan ke makam Sunan Bonang, yang kebetulan tidak jauh dari jalan raya. Kami diturunkan persis di depan gang yang menuju area makam.

Dengan langkah yakin saya berjalan menuju makam Sunan Bonang, mengandalkan ingatan yang samar 14 tahun lalu ketika terakhir kemari. Entah, ada semacam rindu yang menguatkan untuk 'bertemu' dengan sang wali.

Di balik tembok area makam suasana sepi menyambut. Kami melihat hanya ada seorang nenek yang duduk di pelataran luar. Saya melewati nenek tersebut, bergegas ke area dalam dan ternyata tak ada seorangpun di sana. Saya mengintip ke dalam ruangan makam yang terkunci, tidak ada tanda-tanda adanya manusia.

Setelah memeriksa dengan segenap pandangan mata, area makam ini benar-benar sunyi senyap, hanya angin yang berbisik malas. Otak saya berpikir cepat, lalu kembali berbalik menemui nenek yang tadi duduk sendirian.

Nenek itu sudah buta dan tidak bisa berbahasa Indonesia. Saya perkirakan usianya di atas 90 tahun. Saya pun menggunakan bahasa Jawa untuk menanyakan keberadaan kuncen makam Sunan Bonang.

Berdasarkan petunjuk si nenek, saya keluar lewat pintu belakang untuk mencari rumah kuncen. Tetapi untuk memastikan rumah tersebut, saya sempat bertanya lagi pada penduduk setempat.

Tibalah kami di rumah sederhana yang terbuat dari dinding bambu atau disebut Gedeg. Saya mengucap salam beberapa kali hingga akhirnya ada seorang perempuan muncul. Saya perkirakan dia adalah putri sang kuncen. Kami dipersilahkan menunggu kembali di pendopo makam Sunan Bonang, sementara Pak Kuncen dipanggil.

Sebelum memasuki pendopo, saya dan Wardah Fajri bersuci terlebih dahulu, mengambil air wudhu dari keran yang ada di depan dinding kawasan makam. Setelah itu kami duduk menunggu kedatangan kuncen di pendopo yang konon dahulu merupakan rumah Sunan Bonang itu sendiri.

10 menit kemudian, seorang lelaki tua yang kurus tinggi datang memperkenalkan diri. Dialah kuncen makam Sunan Bonang. Pintu ruangan makam dibuka, kami berdua masuk ke dalam. Tampak sebuah makam sederhana, hanya berupa gundukan tanah dengan sebatang perdu sebagai penanda.



Itulah makam Sunan Bonang yang juga adalah putra dari Sunan Ampel. Jantung berdesir ketika memandang makam tersebut. Rasa haru menyelinap, membuat saya ingin menangis. Dalam waktu yang sekejap itu saya melampiaskan rasa rindu tanpa kata.

Pak Kuncen saya minta memberikan keterangan dengan bahasa Indonesia supaya sohib saya Wardah Fajri mudah memahaminya. Sementara ia menceritakan kisah Sunan Bonang, saya berdialog sendiri dengan sang wali melalui hati yang penuh cinta.

Selain suara jernih kuncen yang bercerita dengan khidmat, saya meresapi kesunyian yang melangut di sekitar kami. Kesunyian yang membuat saya ingin berada di tempat itu selama mungkin. Hanya saja saya tidak mungkin melakukan hal itu.

Sebagian besar kisah itu sudah saya ketahui, karena sejarah Walisongo selalu lekat dalam ingatan. Pak Kuncen menjelaskan bagaimana Sunan Ampel memerintahkan Sunan Bonang untuk menetap di wilayah itu dan berdakwah, menyebarkan agama Islam.

Setelah selesai dengan penjelasan yang runtut, Pak Kuncen mempersilahkan kami untuk berdoa. Dia sendiri keluar dan menunggu di pendopo. Ia memberi kesempatan pada kami supaya lebih khusyuk berdoa di makam tersebut.



Kalau saya, hanya membaca doa singkat dan inti dari 'pertemuan' ini. Saya cukup senang melihat rekan Wardah Fajri mengirim doa untuk beliau dan menghayati keberadaannya di pesarean Waliyullah yang satu ini. Saya bahagia dengan cara saya sendiri.

Usai dengan kunjungan ini, kami keluar menemui Pak Kuncen yang bernama Abdul Wahid. Kami pamit sebelum menuju masjid Sunan Bonang yang hanya berjarak lima puluh meter dari area makam. Pak Kuncen yang halus dan sopan itu mengantarkan kami hingga ke pintu.




Minggu, 25 Agustus 2019

Jelajah Rembang Dalam Sebuah Misi



Pada hari kemerdekaan 17 Agustus 2019, tidak seperti kebanyakan orang yang terpaku pada upacara seremonial, saya dan sohib Wardah Fajri justru melakukan perjalanan spiritual mengunjungi makam para wali. Kota pertama yang menjadi tujuan adalah Rembang, di mana ada salah seorang ulama dan juga sastrawan Mustofa Bisri atau dikenal dengan sebutan Gus Mus.

Diturunkan oleh bus malam pada pukul dua dini hari di depan taman RA Kartini, membuat kami sempat kebingungan. Sebab rumah penginapan yang kami pesan, lokasinya masih terlalu jauh dari sana.

Kami berpikir mencari hotel melati terdekat untuk singgah sementara. Tetapi ternyata hotel itu sudah penuh. Kami harus berpikir keras bagaimana menyelamatkan diri di malam itu. Kemudian kami menuju mini market yang buka 24 jam sambil mencari informasi.

Di depan mini market tersebut duduk seorang pemuda sendirian sedang merokok. Sementara sohib saya berada di dalam mini market, saya pedekate pada pemuda itu. Tak disangka pemuda yang bernama Anang tersebut adalah tetangga satu RT dengan Gus Mus.

Singkat cerita, Anang begitu berbaik hati mencarikan penginapan untuk kami. Bahkan ia juga menunjukkan tempat tinggal Gus Mus sebelum mencari hotel. Dia mengantar kami satu persatu karena tak mungkin memboncengkan dua orang dalam satu motor.


Beberapa hotel disambangi, semua penuh. Harapan terakhir adalah Fave hotel yang sudah penuh juga. Tetapi mendadak ada penghuni yang kemudian pergi sehingga ada satu kamar kosong yang kemudian dibersihkan.

Anang berlalu dengan motornya. Kami sangat berterimakasih dengan pertolongannya. Mungkin Allah SWT yang memang menggerakkan dia untuk menolong kami. Dia tak ubahnya malaikat yang dikirim kepada dua perempuan yang sedang terdampar di kota ini.

Istirahat di kamar melepas lelah, saya baru tidur setelah shalat Subuh. Kami terbangun pukul sembilan lebih dan dengan tubuh masih lemas, berusaha turun untuk sarapan. Masakan yang tersedia lumayan enak, cukup untuk energi keliling kota Rembang.

Kami mendapat kabar dari seorang teman kalau Gus Mus sedang berada di Tegal. Yah, belum ditakdirkan untuk bertemu beliau. Namun kami memanfaatkan waktu dengan mengunjungi museum RA Kartini, yang jaraknya hanya sekitar 200 meter dari hotel. Tentang museum ini, saya tulis di akun www.kompasiana.com/empuratu



Selesai mengunjungi museum, kami ke alun-alun yang ada di seberang hotel. Kebetulan sedang ada pawai atau karnaval 17-an. Sebuah hiburan rakyat yang menyenangkan, ada mobil hias dengan barisan yang berpakaian daerah atau karakter. Karnaval itu sangat meriah.

Namun kami tidak larut dengan tontonan itu. Untuk melipur hati karena gagal bertemu dengan Gus Mus, kami berziarah ke makam KH Cholil Bisri, yang juga adalah ayah dari Gus Mus. Dengan menggunakan becak, kami ke makam beliau.



Kompleks pemakaman ulama ini sangat sederhana, maklumlah di daerah perkampungan. Makam KH Cholil Bisri dan keluarga dipagari, tapi terbuka pintunya sehingga siapapun bisa masuk dan berdoa di sana. Mumpung sepi, kami bersimpuh mengirim doa untuk beliau

Usai berdoa, ada rombongan yang datang. Kami pun segera melipir dari sana kembali menumpang becak ke alun-alun. Tontonan pawai masih berlangsung, kami menyaksikan sambil minum di depan mini market.



Ketika matahari semakin condong ke Barat, kami beranjak melewati karnaval. Tidak lupa foto di gerbang alun-alun dan gerbang masjid agung Rembang. Setelah itu kembali ke hotel untuk menyejukkan tubuh. Kami harus segera melanjutkan perjalanan.



Cita Rasa Masakan Sunda Dan Spot Instagramable di 'Kluwih" Bogor



Bagi yang ingin menikmati masakan tradisional khas Jawa Barat atau Sunda memang tidak sulit. Meluncur saja ke kota hujan Bogor, maka keinginan itu akan segera terpenuhi.

Ada sebuah rumah makan yang mudah dijangkau karena terletak tak jauh dari pintu tol masuk kota Bogor. Resto Kluwih ada di sebelah kiri dari jalan raya. Bangunan resto ini mudah dikenali karena didominasi oleh ornamen kayu.

Sesuai dengan namanya, maka rumah makan ini menyajikan aneka hidangan, khususnya dengan cita rasa Sunda. Ada olahan ikan bakar dan ikan goreng serta lalapan.

Beberapa kali ke tempat ini, saya selalu mengambil menu yang berbeda-beda. Tujuannya adalah mencicipi setiap jenis makanan dan minuman. Ternyata semua sangat cocok di lidah, terasa nikmat.



Biasanya saya mencari menu yang tidak ada di resto lain. Misalnya menu nasi kuning Kluwih yang juga menjadi andalan. Rasanya memang enak, gurih dengan lauk. Teri dan telur. Sebagai minuman penyegar adalah es tape dengan sirup merah yang menggugah selera.


Kalau tidak mau makanan berat, pesan saja makanan kecil untuk teman minum kopi. Ada pisang goreng dan colenak juga lho. Enak banget, dengan bumbu kelapa yang menggunakan gula merah. Memang bagi yang tidak menyukai rasa manis berlebihan, kurang cocok dengan colenak di sini.



Berbagai minuman tradisional juga ada, seperti minuman jamu yang sehat untuk kita. Ada wedang jahe hingga kunyit asem. Biasanya ini menjadi pilihan kaum wanita.

Namun kelebihan "Kluwih"  tidak hanya pada masakan. Rumah makan ini juga sangat Instagramable, bagus untuk spot foto, baik di lantai dasar maupun lantai dua. Nah ini yang membuat banyak orang betah nongkrong di sini, apalagi malam Minggu.

Di lantai bawah ada kolam ikan dan jembatan mini yang cukup menarik. Sedangkan sebuah aquarium besar dengan ikan sejenis Arwana, ada di sudut menutupi pintu toilet.



Jalan menuju ke atas bukan berupa tangga biasa, melainkan jalan menanjak yang berbentuk lorong dengan dinding batangan kayu yang berputar.

Sebuah bemo, kendaraan khas kota Bogor di masa lalu, ada depan toilet. Warnanya abu abu. Kita boleh menaiki bemo ini dan berpura-pura mengendarainya. Tentu saja saya tidak melewatkan kesempatan untuk berfoto di sini.

Meja-meja dan kursi makan terbuat dari kayu. Beranda atas malah dilengkapi dengan beberapa sepeda onthel untuk hiasan atau selfie dengan latar belakang pemandangan jalan raya dan rindang pepohonan.



Tanpa AC, lantai atas ini tidak terasa panas, apalagi dilengkapi dengan kipas angin yang tergantung di plafon. Disediakan pula ruang khusus yang disewakan untuk acara keluarga dan kantor.

Jumat, 26 Juli 2019

Jatuh Cinta Pada Salmon Guriru, Menu Baru HokBen



Terkaget-kaget juga saya mengetahui bahwa ada menu ikan salmon yang dikeluarkan oleh HokBen. Bagaimana tidak, ikan salmon adalah salah satu menu yang saya sukai. Tetapi jarang ada resto di Indonesia yang menyajikan menu ini.

Sebagaimana diketahui, ikan mengandung gizi yang tinggi, selain protein hewani, juga mengandung omega 3 yang kita butuhkan. Menu ikan adalah makanan yang sehat karena rendah kolesterol dan lemak, sangat cocok bagi yang ingin selalu menjaga kesehatannya.

HokBen memang ciamik, selalu berinovasi menjawab tantangan dan kebutuhan pelanggan. Menyadari bahwa tren gaya hidup sehat semakin menibmeni, maka tercetuslah Salmon Guriru, sungguh sehat dan oishii.



Salmon Guriru adalah daging fillet yang dipanggang dengan saus teriyaki, disajikan dengan salad lengkap dan seiris lemon sebagai garnish. Menu ini sudah tersedia di 23 store HokBen dan bisa dinikmati khusus dine ini, mulai tanggal 13 Juli 2019. Harganya hanya sekitar 80 K saja.

Menurut Francisca Lucky, Marketing Communication Group Head PT Eka Bogainti (HokBen), menu dengan bahan dasar ikan menjadi pilihan masyarakat untuk gaya hidup sehat. Ikan salmon merupakan sumber protein berkualitas yang kaya lemak sehat omega 3, vitamin dan mineral, baik untuk kesehatan kulit dan daya ingat.

Nah, beberapa hari yang lalu, saya penasaran untuk mencicipi menu Salmon Guriru ini. Maka saya menyempatkan diri datang ke outlet HokBen bersama beberapa teman lain. Wuih, tampak sangat menggoda dan menggugah selera.



Salmon Guriru yang dipanggang dengan saus teriyaki dan disajikan dengan salad dan irisan buah lemon. Untuk saladnya diberi pilihan dressing HokBen Original mayonnaise, Japanese dressing (gimana/wijen) dan shiza (Caesar). Menu ini bisa disantap langsung, atau dengan nasi HokBen yang pulen itu.

Wah, gimana saya gak ketagihan. Salmonnya enak banget, dagingnya yang tanpa tulang, terasa lembut dan nikmat. Ini sih bakalan jadi menu favorit saya di HokBen. Soalnya, selain menjaga berat badan, makanan ini sehat banget. Salmon Guriru telah mendapat sertifikasi halal dari MUI, sesuai dengan standar keamanan pangan. Bahkan sesuai dengan anjuran pemerintah untuk Gemar Makan Ikan (Gemari).

Yuk cobain.




Kamis, 18 Juli 2019

Gudeg Jogja yang Bikin Kangen



Entah karena saya memang lahir di Jogjakarta atau karena cita rasa gudeg yang cocok di lidah saya sehingga saya cinta banget sama kuliner ini. Bagi saya, gudeg lebih ngangeni daripada nasi Padang atau makanan jenis lain. Momen makan gudeg di Jogja juga tidak terlupakan, bagian dari nostalgia yang tidak ada habisnya.
Sejak kecil, saya suka makan gudeg. Meski begitu, ibu saya jarang membuatkan gudeg. Lha wong tinggal beli saja di pinggir jalan. Banyak penjual gudeg yang menggelar dagangan pada pagi hari. Sama halnya dengan pedagang nasi uduk di wilayah Jabodetabek, rerata buka setelah Subuh.
Gudeg adalah makanan (lauk pauk) yang terbuat dari daging nangka muda, direbus bersama santan kental. Untuk mendapatkan warna coklat sebagai ciri khas gudeg, berasal dari daun jati yang juga dimasak secara berjam jam. Untuk menjadikan gudeg sebagai makanan yang lezat, butuh proses berjam-jam lamanya.
Kalau sudah dianggap matang dan layak, ketika mau dimakan dengan nasi hangat, ditambahkan areh, yaitu santan yang sangat kental (lebih kental dari santan pada nasi Padang). Biasanya dilengkapi pula dengan tahu tempe bacem, telur pindang, sambal krecek dan opor ayam. 
Jika saya sudah menghadapi gudeg komplit begitu, apalagi ada sambelnya, duh rasanya nikmat sekali. Sulit menahan diri untuk tidak tambah nasi. Gegara ini saya sering menghadapi kegagalan diet. Maka ketika berada di Jogja, lebih baik jangan keluar rumah pagi pagi, karena pasti akan tergoda membeli gudeg.
Sangat mudah untuk menemukan penjual gudeg di kota Jogjakarta. Setiap pagi kita bisa menemukannya di jalan jalan, di wilayah mana pun. Apalagi jika dekat rumah kos-kosan mahasiswa. Gudeg menjadi salah satu makanan favorit yang murah meriah dan lezat. Cocok untuk mahasiswa berkantong tipis.
Mbok Lindu (dok.tribunjogja)
Mbok Lindu (dok.tribunjogja)
Gudeg memang menjadi salah satu keistimewaan k0ta Jogja. Di sini ada lho penjual gudeg legendaris yang usianya hampir satu abad, namanya mbok Lindu. Ia masih kuat dan cekatan melayani para pelanggan. Gudeg buatannya juga terkenal enak dan murah.
Namun untuk wisatawan, lebih dikenal pula gudeg di jalan Wijilan. Di sepanjang jalan ini ada banyak penjual gudeg yang enak dan murah. Salah satunya yang terkenal adalah gudeg kendil yaitu gudeg yang ditempatkan dalam kendil untuk dibawa pulang. Biasanya ini adalah jenis gudeg kering.
Wijilan adalah area yang tidak jauh dari titik nol kota Jogja atau sekitar alun alun. Kalau belum pernah ke sana, tanyakan saja pada tukang becak, semuanya pasti akan dengan senang hati mengantarkan. Tapi tentu harus pandai menawar becak tersebut dengan harga yang wajar.
Berhubung saya sekarang beraktivitas di Jabodetabek, maka tidak setiap saat bisa menemuka gudeg. Tapi ada tempat tempat yang bisa saya datangi jika ingin makan gudeg. Di Depok, ada penjual gudeg yang tak jauh dari stasiun Depok Lama, tepat di jalan Kartini Raya.
Sedangkan kalau di Jakarta, kita bisa menemukan pedagang gudeg pada hari Jumat di jalan Taman  Cut Meutia, dekat dengan Bank Mandiri. Tetapi yang ingin makan gudeg lebih sering, bisa juga ke basement Sarinah (foodcourt), ada pedagang gudeg di sana, rasanya lumayan juga.


Sabtu, 29 Juni 2019

Satgas Pertamina MOR 3, Menjadi Penyelamat Para Pemudik



Eh, bagaimana pengalaman mudik tahun ini? pasti seru dong. Sejak awal berangkat dari rumah, lalu mengalami berbagai peristiwa di jalan, hingga berkumpul dengan sanak saudara di kampung halaman.

Namun ujian dan cobaan para pemudik sebetulnya ada dalam perjalanan. Terutama bagi yang menggunakan kendaraan pribadi. Boleh dibilang, banyak halangan yang menanti di sepanjang jalan. Bukan hanya macet berjam jam, tetapi juga bagaimana mencukupi kebutuhan bahan bakar yang bisa mendadak habis.

Rest area, tidak menjamin persediaan bahan bakar yang cukup untuk semua pemudik. Soalnya, seringkali rest area sudah terlalu penuh sehingga petugas kepolisian terpaksa menutup akses ke suatu rest area. Bagi yang tidak kebagian, harus mencari rest area berikutnya.

Sayangnya, tidak semua rest area memiliki SPBU atau pom bensin. Jika rest area itu kecil atau baru dibangun, biasanya tidak ada SPBU di sana. Nah lho, bagaimana dengan para pemudik yang membutuhkan bahan bakar, sedangkan di rest area sebelumnya tidak kebagian  tempat?

Untunglah Pertamina telah mengantisipasi hal itu jauh jauh hari. Pertamina menempatkan Satgas Pertamina MOR 3 di titik titik yang dibutuhkan para pemudik. Antara lain di rest area kecil, rest area baru yang belum menyediakan SPBU secara normal.

Satgas Pertamina MOR 3 inilah yang telah menjadi pahlawan penyelamat bagi para pemudik yang kehabisan bensin. Bahkan untuk pemudik yang terjebak di tengah kemacetan tetapi sudah kehabisan bensin, Satgas Pertamina yang kemudian mengantarkan bahan bakar yang dibutuhkan.

Untuk pelayanan itu, kita tinggal menghubungi call center 135 yang telah ada sejak Februari 2019. Kita bisa mendapatkan berbagai informasi melalui pelayanan tersebut. Termasuk mencari lokasi yang menyediakan bahan bakar bagi para pemudik.

Satgas Rafi (Satuan Tugas Pertamina Siaga Ramadan Idul Fitri) dari MOR 3 memberikan pelayanan kebutuhan BBM dan gas bagi masyarakat dan para pemudik. Mereka bekerja keras memenuhi kebutuhan pemudik dalam keadaan berpuasa. Lingkup MOR3 meliputi Banten, Jawa Barat dan DKI.

Mau tahu berapa kebutuhan BBM pada periode mudik tahun ini? Ternyata meningkat 8% dibandingkan tahun lalu. Pemenuhan kebutuhan bensin lebih dari 28.000 kiloliter dan pada saat puncak arus mudik mencapai 35.000 kiloliter.

Satgas Pertamina MOR 3 telah menyediakan 26 kios Pertamina siaga, 60 unit SPBU Modular, 50 unit motor kemasan siaga, 5 unit tangki dispenser, 50 unit mobil storage, 50 unit rumah Pertamina siaga, agen dan pangkalan siaga, satgas pertamina siaga 24 jam nonstop.

Coba bayangkan, jika satgas Pertamina MOR 3 itu tidak sigap dan bekerja cepat, tentu banyak pemudik yang akan terlantar di jalan karena kehabisan bahan bakar. Karena itulah Pertamina memberikan apresiasi kepada Satgas Pertamina MOR 3 ini pada tanggal 26 Juni lalu di Jakarta.



Ada beberapa kategori penghargaan yang diberikan, antara lain:
1. Kategori mitra bisnis Pertamina Siaga. Mereka yang menerima penghargaan ini adalah PT Jasa Marga Tbk, PT Lintas Marga Sedaya, PT Pertamina Retail, dan PT Pertamina Patra Niaga.
2. Kategori Mitra Satgas Pertamina Siaga. Penerimanya adalah Katsatlantas Polres Indramayu, Katsatlantas Polres Subang, Katsatlantas Polres Garut, Hiswana Migas DPD III, RS Pertamina Cirebon, RS Pertamina Jakarta.
3. Kategori SPBU Siaga. Mereka yang berhak menerimanya adalah 16 SPBU di jalur tol maupun non tol.
4. Kategori SPBU Modular dan kiosK Pertamina Siaga, yang memberikan dukungan penyaluran BBM untuk para pemudik di titik yang tidak terdapat pelayanan SPBU, yaitu Km 130A, 86A, 52B, 33A.
5. Kategori terminal BBMdan Depot LPG, yang nonstop 24 jam mendistribusikan BBM dan LPG.
6. Kategori Satgas Pertamina Siaga yang merupakan penghargaan bagi seluruh anggota tim Satgas Pertamina yang bertugas di lapangan serta Pusat Komando dan Pengendalian Pertamina.

Sebagai anggota masyarakat yang telah terbantu oleh Satgas Pertamina MOR 3 ini, kami sungguh mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Mereka telah melayani dengan sepenuh hati untuk memenuhi kebutuhan BBM bagi para pemudik.


Selasa, 28 Mei 2019

Mudik Nyaman Dengan Layanan BPJS Kesehatan



Ketika kita memutuskan untuk mudik ke kampung halaman, maka kita harus bersiap menghadapi apa yang bisa terjadi sepanjang perjalanan. Misalnya jika tiba tiba ada anggota keluarga yang sakit, atau mendadak terlibat kecelakaan. Kita harus mengantisipasi berbagai kemungkinan yang terburuk.

Namun jika kita sudah menjadi peserta BPJS Kesehatan, sebetulnya kita tidak perlu kuatir lagi.Karena ternyata BPJS Kesehatan 'mengawal' kita selama di perjalanan sehingga mudik menjadi aman dan menyenangkan.

Saya memastikan hal itu ketika menghadiri Konferensi pers yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan, Senin lalu (27 Mei 2009) di kantor Pusat BPJS Kesehatan, Jakarta Pusat. Acara bertema 'Mudik Nyaman bersama BPJS Kesehatan' ini dihadiri pula oleh Ketua YLKI, Tulus Abadi, asisten Deputi Direksi Bidang Pengelolaan Faskes Rujukan, Beno Herman dan Kepala Humas BPJS Kesehatan Iqbal Anas Ma'ruf.

Lebaran memang tinggal beberapa hari lagi. Ribuan orang  akan mengikuti tradisi pulang kampung. Oleh sebab itu BPJS Kesehatan berusaha memastikan bahwa peserta JKN KIS tetap memperoleh jaminan dan akses fasilitas yang mungkin dibutuhkan selama perjalanan.

BPJS kesehatan tetap memberikan jaminan dan layanan kesehatan pada peserta selama libur lebaran H-7 s)d H+7 (29 Mei-13 Juni). Peserta JKN KIS bisa memperoleh pelayanan di fasilitas kesehatan.

Caranya, peserta JKN KIS datang ke fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) , meski tidak terdaftar di sana. Untuk daftar, ikuti petunjuk di aplikasi mudik BPJS kesehatan atau menghubungi call center 1500400.

Jika tidak ada FKTP, peserta dapat dilayani di IGD RS terdekat untuk mendapatkan pelayanan medis dasar. Pada kondisi gawat darurat, seluruh fasilitas kesehatan wajib memberikan pelayanan pertama kepada peserta JKN KIS . Ikuti saja prosedur yang diberikan.

Harus diingat bahwa pelayanan kesehatan tersebut hanya berlaku bagi peserta JKN KIS yang aktif. Karena itu penting bagi peserta JKN KIS disiplin dalam membayar iuran.  Untuk mengecek status aktif tidaknya, bisa dolidil dalam aplikasi JKN KIS, mobile JKN.

Meskipun liburan, kantor BPJS kesehatan menyediakan pelayanan khusus bagi peserta JKN KIS. Layanan ini tersedia tanggal 3.4. dan 7 Juni, pukul 08.00-12.00 waktu setempat.

Layanan itu mencakup:
1. Pendaftaran bayi baru lahir (khusus bagi peserta pekerja penerima upah (PPU dan penerima bantuan iuran (PBI)
2. Pencetakan kartu bayi baru lahir.
3. Perbaikan data dan pencetakan kartu peserta PBI yang sedang rawat inap.
4. Re-aktivasi anak PPU berusia di atas 21 tahun yang masih kuliah atau rawat inap.
5. Penanganan pengaduan yang membutuhkan solusi segera.

Sedangkan layanan khusus di  RS melalui Petugas Informasi dan Penanganan Pengaduan (PIPP)  untuk:
1. Pendaftaran bayi baru lahir bagi peserta segmen mandiri.
2. Perhitungan denda layanan.
3. Penanganan pengaduan di RS atau yang perlu dieskalasi  BPJS kesehatan karena membutuhkan solusi segera.

Jangan lupa download aplikasi JKN KIS lewat mobile JKN. Informasi lebih lanjut di 1500400. Cek juga di media sosial BPJS kesehatan Twitter:  @BPJSKesehatan_RI .
Instagram @bpjskesehatan_ri, Facebook BPJS kesehatan RI.

Website: humas@bpjs-kesehatan.go.id

Minggu, 26 Mei 2019

Kenali Penyakit Thalassemia dan Cegah Sedini Mungkin



Saya teringat ada seorang rekan penulis dan novelis yang cukup ternama telah mengidap penyakit Thalassemia. Akibatnya, ia harus mengeluarkan biaya tinggi untuk pengobatan setiap bulan. Penghasilan sebagai penulis, tidak dapat menutupi mahalnya pengobatan sehingga ia terpaksa meminta bantuan kepada siapa saja.

Saya tidak tahu persis tentang Thalassemia itu. Satu hal yang saya ketahui hanyalah bahwa penyakit ini berhubungan dengan darah manusia. Nah, kebetulan Kementrian Kesehatan mengadakan seminar mengenai Thalassemia pada hari Senin, 20 Mei 2019. Seminar ini diadakan dalam memeringati hari Thalassemia yang jatuh pada tanggal 8 Mei yang lalu.

Apa sih Thalassemia itu? yaitu penyakit kelainan sel darah merah yang diturunkan dari kedua orang tua anak dan keturunannya. Penyakit ini disebabkan karena berkurangnya atau tidak terbentuknya protein pembentuk hemoglobin utama manusia. Hal ini menyebabkan sel darah merah mudah pecah sehingga pasien menjadi pucat karena kekurangan darah (anemia).



Ternyata ada tiga jenis Thalassemia:
1. Thalassemia Mayor. Pasiennya memerlukan tranfusi darah secara rutin seumur hidup (2 s/d 4 minggu sekali)
2. Thalassemia intermedia; pasien membutuhkan tranfusi darah tetapi tidak rutin.
3. Thalassemia minor; trait/pembawa sifat; secara klinis sehat, hidup seperti orang normal fisik dan mental, tidak bergejala dan tidak memerlukan tranfusi darah.

Faktanya, penyakit Thalassemia ini dapat diturunkan. Misalnya kedua orangtua pembawa sifat akan memberi kemungkina; 25% Thalassemia mayor, 25% normal dan 50% pembawa sifat.



Anak dengan Thalassemia mayor dapat lahir normal dan gejala yang muncul saat usia beberapa bulan. Anak tampak pucat dan lesu, kuning, gigi kurang. Pada anak yang lebih besar, kulit kehitaman, perut membesar, perubahan bentuk wajah (facies Cooley), tanda tanda pubertas terlambat dan gangguan pertumbuhan (tubuh kecil).

Sedangkan pengidap Thalassemia intermedia dapat memiliki gejala klinis mirip Thalassemia Mayor, seperti wajah pucat, tetapi kebutuhan transfusi darah tidak sesering Thalassemia Mayor.

Thalassemia minor/trait/pembawa sifat pada umumnya tidak bergejala. Mereka dapat hidup layaknya orang normal, sehat fisik dan mental serta tidak memerlukan transfusi darah. Tetapi dia dapat memiliki anak dengan Thalassemia Mayor jika menikah dengan sesama pembawa sifat.

Bagaimana cara mengetahui bahwa seseorang mengidap Thalassemia?
1. Memiliki riwayat penyakit keluarga yang anemia atau pasien Thalassemia
2. Pucat dan lemas
3. Riwayat transfusi berulang (jika sudah pernah transfusi sebelumnya)
4. Pemeriksaan darah, hematologi lengkap dan analisa HB.

Namun Thalassemia Mayor dapat dicegah dengan melakukan skrinning Thalassemia, yaitu pemeriksaan darah tepi dan analisis Hb untuk mengetahu seseorang normal atau Thalassmia mayor/Thalassemia minor. Skrinning ini  sebaiknya dilakukan sedini mungkin atau sebelum menikah. Dengan demikian dapat terhindar perkawinan antar sesama Thalassemia minor yang dapat melahirkan Thalassemia mayor.

Sayangnya Thalassemia mayor belum dapat disembuhkan. Pengobatan satu satunya dengan melakukan transfusi darah rata rata sebulan sekali seumur hidup disertai minum obat obat tertentu.

Cara menangani pasien Thalassemia mayor sbb:
1. Transfusi darah
2. Obat pengikat besi/kelasi besi
3. Obat pendukung lainnya dan makanan sehat bergizi
4. splenektomi (pengangkatan limpa)
5. Penanganan komplikasi penyakit lainnya yang diderita
6. Transpalantasi (pencangkokan) sumsum tulang.