Minggu, 17 September 2017

Mengintip Gaya Milenial 'Ready to Wear' Indonesian Fashion Chamber 2017 di Neo In sTyle


Siapa yang tidak ingin mengikuti alur mode kekinian? Setiap wanita pasti ingin tampil modis dan menarik. Hal ini berlaku untuk semua kalangan, dari anak-anak muda yang bergaya sportif sampai dengan kaum muslimah yang harus menutup aurat.

Nah semua itu bisa didapatkan dari  gelar Indonesian Fashion Chamber (IFC) di Neo in Style, Mal Neo Soho, Jakarta Barat sejak tanggal 10 s/d 17 September 2017. Aneka mode paling gress ada di sini, yang memuaskan para pecinta adi busana.

Bertempat di main stage  Mal Neo Soho, Tujuh designer ternama Indonesia menampilkan karya-karya teranyar tahun ini. Kali ini, dengan tema 'ready to wear' (siap pakai) yang merupakan ciri khas industri mode saat ini.  Namun jangan salah, produksi Indonesia ini mampu bersaing di dunia global.

Neo In Style adalah kolaborasi antara IFC (Indonesian Fashion Chamber) dengan Central Park.  Gelaran Fashion yang keren ini dalam rangka memeringati hari jadi Neo Soho Mall yang pertama.  Gelaran yang cukup sukses dan langsung menarik perhatian masyarakat.

"Acara ini bertujuan untuk menjaga identitas Newest Lifestyle Destination. Selain itu untuk mendukung pegiat industri fashion, terutama IFC sebagai salah satu tenant," jelas Silviyanti Dwi Aryati selaku Senior Marketing Communication Manager Central Park dan Neo Soho mall.

Sebenarnya produk 'ready to wear' adalah pilot project dari kerjasama antara IFC dengan Neo Soho. Hal ini untuk mendukung desainer muda yang menjadi anggota IFC. "ready to wear' akan dikembangkan menjadi bisnis retail.

"Supaya negara kita tidak hanya menjadi pasar dari produk negara lain, tapi juga dapat mengambil peluang pasar dalam industri fashion secara global," tandas Ali Charisma, National Chairman Indonesian Fashion Chamber.

Suksesnya pagelaran fashion ini juga tak terlepas dari pihak-pihak pendukung lainnya. Seperti Make Over yang menggarap make up para peragawati dan sponsor dari You C 1000. Panggung runway yang terkesan modern dan elegan menyempurnakan  keindahan busana yang ditampilkan.


Busana yang atraktif dan menawan

Hasil karya designer muda dari Susan Budihardjo mengawali pagelaran busana 'ready to wear.  Ada 10 designer muda yang tergabung dalam gelaran ini. Mereka menyajikan gaya kontemporer, dengan pakaian-pakaian casual yang unik. Ada permainan seni dari plastik dan lukisan cat air.



Gaya busana yang ditampilkan oleh Yunita Kosasih bertema Harmonious Chaos yang menyiratkan keharmonisan dalam ketidakteraturan. Designer ini menggunakan bahan dari lurik yang sewarna tanah. Kesan etnik menonjol dengan detail handmade beads.



Sedangkan Mozza by Febyayusta menampilkan nuansa di Jepang dengan permainan mutiara  dan rajutan. Ibarat bulir-bulir salju dan ranting yang berserakan. Detail yang digunakan adalah smock yang menggunakan kain kasa untuk menggambarkan tumpukan salju.



Designer Navil Apim mempersembahkan tema Ranting. Koleksinya memang terinspirasi dari ranting kayu di pantai. Ia memilih warna-warna alam seperti coklat muda, pasir, mutiara dan kayu muda. Dengan taburan mutiara dan payet mengesankan percikan air laut di pantai. Bahan-bahan yang digunakana dalah  organza, tile, duches, brokat dan satin. 8 koleksinya berupa evening gown yang feminin dan elegan.



Berbeda dengan Belinda Ameliyah yang memilih tema Loge Finale. Inspirasinya dari siluet bangunan lama yang disebut Loge (baca: loji), yang banyak terdapat di kota Malang. Loge adalah bangunan yang dijadikan benteng oleh Belanda pada masa penjajahan.

Koleksi-koleksi yang dibuatnya menggunakan bahan soft jeans, dikombinasikan dengan woven. Terdiri dari celana dan  out-wear dengan detil selendang woven dan aksesoris kayu serta etnik. gaya ini cocok untuk yang berjiwa muda.

Sementara Yon Yulizar justru mengambil tema Frozen Fall  yang menggambarkan musim dingin bersalju di kutub utara dengan pengaruh white gothic yang kental.  Teknik pengerjaan yang apik dengan menggabungkan beberapa unsur seperti Lace, satin, tulle dll, dilengkapi asesoris buatan Yon Yulizar sendiri.



Sedangkan Aldre menampilkan Limbo-the last chapter.  Koleksinya merupakan kelanjutan dari LImbo series  yang terinspirasi dari kontradiksi surga dan neraka. Karya-karyanya merupakan simbol dari dua dunia tersebut.

Lain lagi dengan Reborn 29 By Syukriah yang bertemakan Hello sunshine. Gaya busananya terinspirasi dari nuansa hutan yang heterogen. Ada warna warna pepohonan, sekaligus merefleksikan sinar matahari yang menyinari bumi.

Karya-karya unik bertema e-motion, dipersembahkan oleh Ali Charisma. Koleksinya menyiratkan gejolak jiwa yang sering dialami manusia. Ada penggambaran ceria, dan ada yang sedih. Disajikan secara apik denga  setting yang senada.




Sementara designer Khanaan menyajikan karya-karya bertema Padma. Sebagaimana kita ketahui, padma adalah nama lain teratai, bunga air yang indah dan anggun. Gelaran busana lainnya menampilkan karya-karya menarik dari Phangsanny yang bertema Terbuai.