Selasa, 31 Oktober 2023

Peluncuran Novel Terbaru Karya Yon Bayu Wahyono, Prasa dan Kelir

 

Bedah novel Prasa dan Kelir (dok.pri)

Salah seorang sobat saya, Yon Bayu Wahyono bukan hanya piawai dalam menulis politik di Kompasiana. Sebetulnya dia juga seorang novelis. Beberapa buku novel pernah diterbitkan sekitar sepuluh tahun lalu. Karena kesibukan menjadi wartawan dan YouTubers, ia tak sempat lagi menulis novel.

Nah sekarang ia kembali sebagai fiksianer, menulis kisah dalam sebuah novel. Tidak tanggung-tanggung, dua buah novel langsung dikeluarkan. Novel ini bukan novel biasa karena sarat akan filosofi, terutama pada orang Jawa. Kita justru belajar banyak melalui novel ini. 

Sebagian peserta yang hadir (dok.pri)

Maka, Minggu 29 Oktober 2023 dipilih sebagai hari peluncuran kedua novel baru tersebut. Bertempat PDS HB Yasin di lantai empat gedung Ali Sadikin (gedung panjang) Taman Ismail Marzuki, jalan Cikini Raya. Sekitar seratus orang hadir memenuhi undangan. Mereka adalah para sastrawan dan penulis dari berbagai kalangan. 

Teman-teman dan sahabat sastra banyak yang hadir, termasuk sahabat saya Fanny Jonathans Poyk, sastrawan dari Depok. TIM memang sejak dahulu merupakan tempat berekpresi para seniman dan sastrawan. Saya pun kerap bersilaturahmi di sana.

Fanny Jonathans Poyk (dok.pri)

Setelah dibuka oleh MC, acara dimulai dengan pembacaan nukilan novel Kelir. Pembacaan yang menarik, membawa kita untuk membayangkan adegan yang dilakukan para tokoh dalam novel ini. Apalagi disertai dengan penjiwaan yang mendalam. 

Setelah itu, mulai diskusi membahas secara mendalam proses kreatif dalam menulis novel tersebut. Isson Khairul dan Sunu mengupas tuntas tentang isi novel yang menggambarkan konflik dalam masyarakat Jawa. Terutama dalam masalah asmara. Diskusi cukup menarik dengan adanya pertanyaan-pertanyaan dari para peserta yang hadir. 

Peluncuran Novel tersebut terbilang cukup sukses, dilihat dari banyaknya peserta yang hadir dan antusiasme dalam menanggapi diskusi. Semoga novel-novel ini menjadi best seller di kemudian hari.

Suasana peluncuran Novel (dok.pri)



Rabu, 25 Oktober 2023

Elsa Maharani, Motor Penggerak Kampung Jahit di Padang, Sumatra Barat

 

Elsa Maharani (sumber: Ig @elsamaharrani)

Menjadi pahlawan tidak harus mengangkat senjata. Menjadi pahlawan juga tidak harus seorang laki-laki. Dia yang menjadi pahlawan bisa jadi adalah orang yang berjuang mengangkat derajat masyarakat di sekitarnya. 

Salah satu contoh adalah apa yang dilakukan Elsa Maharani,  perempuan muda berwawasan luas yang berhasil mengentaskan kemiskinan di wilayah Padang. Dia menjadi motor penggerak Kampung Jahit untuk memberdayakan masyarakat di sekitarnya. 

Pada saat pandemi Covid 19 melanda Indonesia, banyak orang menjadi mati kutu. Mereka putus asa karena merasa tak berdaya menghadapi kebutuhan keluarga. Akibat terjadinya PHK massal,  mereka kehilangan mata pencaharian. Hampir tak ada solusi yang membantu masyarakat mengatasi kesulitan tersebut. 

Namun tidak begitu halnya dengan Elsa Maharani. Dengan kecerdasan dan kegigihan yang dimilikinya, dia mampu membawa masyarakat untuk keluar dari lubang jarum. Bahkan kemudian meningkatkan perekonomian dengan cepat. 

Orang boleh menyebutnya sebagai Kartini masa kini. Dia memiliki semangat yang sama untuk menolong sesama, khususnya kaum perempuan. Elsa mendorong kaum perempuan agar lebih produktif berkarya di saat perekonomian lesu. Justru perempuan dapat menyelamatkan keadaan dengan menjadi penggerak perekonomian.

Ajaran Rasulullah  'sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia' (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni), menjadi acuan Elsa Maharani dalam menjalani kehidupan. 

Kampung Jahit

Sebetulnya semua dimulai dari keprihatinan terhadap  masyarakat ekonomi lemah keadaan ekonomi yang tergolong lemah di sekitar tempat tinggalnya. Ia ingin  berkontribusi dalam membangun perekonomian mereka. Lalu Elsa memikirkan  bagaimana caranya supaya para ibu rumah tangga disekitarnya bisa produktif dan membantu perekonomian keluarga tanpa meninggalkan rumah. Elsa berusaha memberdayakan kaum ibu. 

Kebetulan, Elsa dan suaminya Fazri Gufran Zainal mulai membangun usaha sejak 2016. Dengan modal awal Rp 3 juta.  Setelah usaha itu sukses,  ia   mulai berpikir untuk mengubah kampungnya. Bersamaan  dengan hal itu, tercetus ide untuk memproduksi brand sendiri.

" Saya berpikir, apa yang bisa dilakukan untuk mengubah kampung saya?"Elsa.


Ruang produksi (sumber: IG @elsamaharrani)

Kebetulan Elsa Maharani memiliki ketrampilan menjahit. Sebagian ibu-ibu di daerahnya juga bisa menjahit. Elsa lalu merekrut mereka sebagai karyawan. Sedangkan ibu-ibu yang belum pandai menjahit  diberikan pelatihan. Dia berhasil meyakinkan bahwa mereka bisa bangkit memajukan perekonomian dengan keahlian menjahit. 

Usahanya tak sia-sia,  15 orang perempuan yang sebelumnya  berprofesi sebagai pencacah batu kali dan asisten rumah tangga, telah pandai menjahit. Langkah selanjutnya, menjadikan mereka sebagai tenaga produksi hijab yang menjadi konsentrasi bisnisnya. Di sisi lain, Elsa membangun branding produksi hijab sehingga menarik perhatian konsumen dan laris di pasaran. 

Pertengahan tahun 2019, Elsa kemudian memunculkan brand dengan merek Maharrani Hijab. Sebuah brand murni yang lahir dari kota Padang. Ia berharap penduduk setempat tidak perlu membeli produk dari kota lain, misalnya  dari pulau Jawa yang selama ini menjadi sentra produksi garmen.

Meskipun boleh dibilang bahwa Hijab tersebut adalah industri dari daerah yang jauh dari ibukota, tetapi cukup bersaing. Hijab Maharrani yang di produksi Elsa menjamin  kualitas tinggi dengan harga terjangkau. Itulah sebabnya pasaran hijab mampu menembus keluar daerah.

Bisnis ini berkembang pesat. Buktinya, Elsa sudah memiliki 150 reseller dan agen yang memasarkan Hijab Maharrani. Bahkan Elsa berhasil memberikan penghasilan kepada stafnya melebihi UMR di kota Padang.

Sistem produksi

Sistem produksi garmen yang dipimpin Elsa sangat fleksibel, bisa dikerjakan di rumah masing-masing. Mereka akan datang seminggu sekali untuk menyetor hasil jahitan. Upahnya sendiri dihitung per hasil jahitan, yang mana makin banyak jahitan yang dihasilkan, maka makin banyak pula upah yang akan diterima.

"Sistemnya pemberdayaan dari rumah. Bahan-bahan dipoi  dipotong di workshop lalu dibawa dan dijahit di rumah masing-masing. Setelah selesai  baru dikembalikan lagi ke workshop. Di sini awal munculnya sebutan  kampung jahit. Lokasi rumah karyawan yang menjahit berdekatan," jelas Elsa.

Ruang produksi (dok.ig.elsamaharrani)

Jika ada ada yang ingin bergabung tapi tidak mempunya mesin jahit, Kampung Jahit Maharrani akan  meminjamkan mesin jahit untuk dibawa ke rumah. Bahkan, pada awal pandemi Covid 19,penjahit diberi bantuan sembako. Bagi Elsa, siapa pun layak diberdayakan asalkan punya semangat, tekad kuat, serta tekun dalam berusaha.

Kesehatan dan kesejahteraan karyawan sangat diperhatikan. Kampung Jahit Maharrani turut memastikan anggota timnya dalam keadaan fit saat bekerja. Pengecekan kesehatan dilakukan secara rutin, seperti cek tensi, kolesterol, gula darah, dan asam urat. Jika didapati pekerja yang kurang sehat, maka akan langsung dirujuk ke klinik untuk mendapatkan pengobatan.

Selama pandemi, Elsa juga menjalin kerjasama dengan beberapa lembaga. Misalnya dengan rumah Tahfiz untuk membantu anak-anak penghafal Al-Quran. Lalu dengan lembaga permasyarakatan, Elsa memberikan pelatihan agar narapidana bisa membuat pouch, tempat atau bungkus hijab dan mukena. Bahkan menggandeng mahasiswa tata busana untuk membuat masker yang kemudian dibagikan kepada masyarakat. 

Tantangan dan hambatan 

Meskipun begitu, perjalanan Elsa Maharani dalam memberdayakan masyarakat   tidak semulus yang dikira. Banyak kendala yang dihadapi,  baik dari internal maupun eksternal. Namun bagi Elsa, ini menjadi tantangan tersendiri. Dia tidak pernah menyerah. Justru Elsa semakin terpacu untuk menggaet lebih banyak orang. 

Tantangan terbesar bagi Elsa ialah menyatukan timnya yang memiliki latar belakang berbeda-beda. Harus diakui kesenjangan pendidikan dan kualitas sumber daya manusia (SDM) mengakibatkan pola pikir tidak sama satu dengan yang lainnya. Cukup sulit  menanamkan pola pikir kebersamaan untuk kehidupan yang lebih baik.

Elsa dan timnya juga pernah mengalami kesulitan akses lantaran berada di daerah pinggiran. Peralatan dan bahan di Kota Padang tidak lengkap. Hal itu memaksa dia berbelanja harus belanja ke Jawa. Di sisi lain, pengiriman produk ke konsumen pun kurang lancar. Namun Elsa tetap gigih dalam bekerja dan berusaha. 

Komitmen yang sejak awal dibangun demi memberdayakan masyarakat nyatanya membuahkan hasil manis. Dalam waktu 4 tahun berkembang pesat. Kini tempat produksinya menampung total 70 orang,  dengan 20 karyawan dan 50 penjahit. Proses inovasi tak berhenti. Produk yang dijual juga makin beragam, mulai dari gamis, mukena, sarimbit, baju dinas, baju koko, dan masih banyak lagi. 

Elsa dan hasil produksi (dok.ig.elsamaharrani)

Ternyata UMKM yang dibangun di pinggiran kota kini telah menjangkau konsumen  hampir di seluruh Indonesia. Maharrani punya sekitar 125 orang agen dan 250 reseller yang tersebar dari Aceh hingga Jayapura. Ditambah lagi ada sekitar 3.000 member yang tergabung di grup Telegram.

Market Maharani semakin meluas, melakukan ekspansi  ke luar negeri, terutama negara tetangga Malaysia. Maharrani bekerja sama dengan salah satu mal di Malaysia untuk memasarkan produknya. Selain Malaysia, Brunei Darussalam menjadi target berikutnya. 

Mendapat penghargaan

Prestasi Elsa Maharani itu kemudian mendapatkan ganjaran dari Semangat Astra Terpadu (SATU) Indonesia Award. Ia memperoleh penghargaan pada Oktober 2020. Bendera Maharani semakin berkibar berkat  sorotan luar biasa dari media, sehingga brand Maharrani makin dikenal. 

"Masya Allah, waktu jadi pemenang saya terkejut.  Gak nyangka gitu kok bisa menang. Soalnya Maharrani baru 2 tahun berjalan," cerita  Elsa.

Ternyata Astra Indonesia tidak melihat seberapa besar brand itu, tapi melihat seberapa besar value-nya terhadap orang lain. 

Elsa dan keluarga (dok.ig.elsamaharrani)



Senin, 23 Oktober 2023

Masakan Padang Otentik Ada di Kedai ABBA, Tajur, Bogor

Ketupat sayur Padang dkk (dok.pri)

 Rumah makan Padang cukup berlimpah di Jabodetabek. Boleh dikatakan, rumah makan Padang ada di mana-mana. Namun tidak semua rumah makan Padang menyajikan cita rasa yang sama nikmatnya. Ada lho yang kurang enak dan tidak cocok di lidah. 

Salah satu penyebab masakan Padang kurang enak adalah karena yang membuat masakan tersebut tidak benar-benar memiliki keahlian memasak. Mungkin juga karena yang memasak bukan orang asli Sumatera Barat. Jadi, tidak terlalu mengetahui cara agar masakannya menjadi lezat sebagaimana aslinya. 

Nah, beberapa hari yang lalu saya menemukan masakan Padang yang endeus banget di daerah Tajur, Bogor. Tepatnya di kedai ABBA, ada di g-maps. Saya kemari menggunakan angkot 01 dari Botani square, setelah sebelumnya naik angkot 03 dari alun-alun Bogor. Alternatif lain adalah naik Bis Kita dari halte di depan perpustakaan Bogor atau DPRD Kota Bogor.

Ketupat sayur Padang (dok.pri)

Kedai ABBA berada di lantai atas, ada tangga di pojok luar untuk ke sini. Di bawah terdapat klinik untuk berobat. Masakan Padang  tersedia dari jam 07.00 pagi hingga jam 14.00. Jadi, kita bisa sarapan atau makan siang di sini. Banyak pilihan menunya yang menggugah selera.

Kalau memang senang makan nasi Padang, tinggal dipilih saja mau pakai lauk rendang, ayam, kikil, tunjang dll. Sayur pakis yang langka pun ada di tempat ini. Tetapi ada pilihan lainnya seperti ketupat sayur Padang, yang juga bisa ditambahkan lauk seperti nasi. 

Bubur kampiun (dok.pri)

Bagi yang tidak ingin makan berat, pilih saja bubur kampiun. Bubur ini merupakan campuran dari bubur kacang hijau, ketan hitam, kolak pisang, bubur sumsum. Rasanya antara gurih dan manis, yang jelas enak banget deh. 

Soto Padang (dok.pri)

Pilihan lainnya ada soto Padang. Menurut saya sih, soto Padang lebih sesuai untuk makan siang. Rasanya juga endolita, dengan dendeng paru sebagai topping. Soto ini bisa dimakan begitu saja atau juga dengan sepiring nasi. Lebih lengkap lagi jika dimakan dengan kerupuk opak singkong yang gurih.

Gorengan (dok.pri)

Gorengan ala Padang juga disajikan, misalnya perkedel kentang dan bakwan jagung. Bakwan jagung ini enak, saya belum pernah menemukan yang seenak ini di tempat lain. Beberapa macam kue juga tersedia, beserta cemilan khas Sumatra Barat lainnya. 

Buat yang suka ngopi, bisa pesan juga secangkir kopi asli. Ada lho yang dari Aceh dan Medan. Tidak lengkap kenikmatan tanpa kopi, ya kan? Area di sini terbuka dengan view jalan raya Tajur. Sambil makan, kita melihat mobil lalu lalang dari dan menuju Ciawi. 

Jadi, kapan mau ke sini?

Masakan Padang (dok.pri)


Senin, 16 Oktober 2023

Narman, Kenalkan Baduy Sebagai Permata Terpendam

 

Narman, pemuda Baduy (dok.ig.ayahriann)

Masih banyak orang yang menganggap bahwa suku Baduy di Lebak, Banten adalah masyarakat terbelakang. Mereka tidak menjalani pendidikan formal, mengenakan pakaian sederhana dan rumah yang lebih mirip gubuk. Bahkan setelah suku Baduy diperkenalkan oleh Presiden Jokowi dengan memakai pakaian adat Baduy, mereka tidak percaya bahwa suku ini adalah salah satu harta karun Indonesia. 

Ya, suku Baduy bagi saya merupakan permata terpendam yang sangat berharga bagi Indonesia. Inilah kekayaan Indonesia dengan beragam suku dan budaya. Ketidaktahuan sebagian masyarakat tentang suku Baduy karena mereka tidak pernah mengenal secara langsung suku Baduy. Mereka hanya menilai dari sisi fisik semata. Padahal suku Baduy memiliki banyak kelebihan yang tidak ada pada penduduk Indonesia umumnya. 

Saya bersama teman suku Baduy Dalam (dok.pri)

Beruntung saya pernah menjelajah kawasan Baduy hingga lokasi desa Cibeo, yang termasuk wilayah Baduy Dalam. Butuh lima jam berjalan kaki, naik turun bukit. Apalagi dalam cuaca buruk, dengan hujan yang dicurahkan dari langit. Trek terasa sangat terjal dan licin. Di sana saya mengenal kehidupan sehari-hari suku Baduy Dalam.

Pemukiman Baduy Luar (dok.ig.ayahriann)

 Jadi, suku Baduy terbagi dua, Baduy Dalam dan Baduy Luar. Suku Baduy Luar lebih terbuka. Lokasinya pun mudah ditempuh dengan kendaraan ke Ciboleger. Setelah itu kita bisa menyusuri perkampungan penduduk Baduy Luar sekitar 3 km, sampai perbatasan antara Baduy Luar dengan Baduy Dalam di jembatan Gazebo yang terbuat dari bambu. 

Sedangkan suku Baduy Dalam, harus berjalan lebih jauh lagi dengan jalur yang menantang. Di wilayah Baduy Dalam ini tidak boleh mengambil foto dan merekam apapun. Ini adalah larangan adat yang tidak boleh dilanggar. Tidak ada listrik, penerangan dari obor kecil. Telepon genggam juga tidak akan berfungsi karena terbebas dari internet, hanya digunakan untuk senter.

Suku Baduy Dalam juga tidak menggunakan zat-zat kimia. Kita tidak boleh menggunakan sabun dan odol, mandi di sungai yang jernih mengalir dari gunung. Bersihkah? Buktinya, kulit suku Baduy Dalam bening dan halus, bahkan paras mereka cantik dan ganteng. 
Mereka hidup sederhana, menyatu dengan alam. 

Namun baik suku Baduy Dalam dan Baduy Luar, memproduksi kerajinan tangan dari hasil hutan di sekitar mereka. Dari Baduy Dalam ada tas dari kulit kayu yang unik. Sedangkan Baduy Luar, juga menghasilkan kain tenun. Selain itu ada pernak pernik seperti gelang dan aksesoris lainnya. 
Sayangnya, tak banyak yang mengetahui produk kerajinan tangan suku Baduy, kecuali orang-orang yang telah berkunjung ke sana. Padahal ini sangat potensial untuk menjadi sumber penghasilan. 

Narman pendiri Baduy Craft 

Untunglah kemudian ada kesadaran seorang pemuda Baduy Luar bernama Narman. Pada tahun 2016  ia  berinisiatif memperkenalkan produk kerajinan tangan dari suku Baduy ke luar Baduy. Narman mulai mempelajari kemungkinan tersebut dengan memanfaatkan media sosial Instagram. Dia membuat akun Baduy Craft, yang mempromosikan produk- produk kerajinan masyarakat Baduy.

Narman dan tas khas Baduy (dok.baduycraft)

Tidak cukup dengan Instagram, Narman lalu menawarkan produk kerajinan khas masyarakat Baduy melalui marketplace seperti Bukalapak dan Tokopedia. Tetap dengan brand yang sama dengan  Instagram, Baduy Craft.

Tidak sia-sia Narman mempromosikan kerajinan masyarakat Baduy melalui media sosial Instagram dan marketplace. Ternyata mendapat tanggapan  positif.  Semakin banyak orang yang tertarik dan kemudian membeli produk kerajinan tangan dari suku Baduy.

Narman kemudian melangkah lebih jauh dalam memasarkan produk kerajinan tangan dari suku Baduy. Dia mulai mempromosikan  melalui pameran-pameran yang digelar di beberapa wilayah seperti Jakarta dan Depok. 

Dengan mengikuti pameran, Narman bermaksud  menyasar konsumen yang ingin melihat langsung produk kerajinan tangan dari Baduy. Setiap ada event Ketika bernuansa Nusantara, Narman berusaha menghubungi pihak panitia. la meminta agar diperbolehkan berpartisipasi dalam pameran tersebut dengan menampilkan produk kerajinan tangan dari suku Baduy.

"Saya mencari event  yang bertema nusantara. Lalu saya daftar sendiri dan bayar sendiri. Ada yang membantu saya membuka stand di beberapa event. Akhirnya saya berhasil memasarkan produk-produk masyarakat baduy di pameran," cerita Narman, yang telah memiliki dua orang anak.

Menurut Narman, melalui pameran ia bisa  bertemu langsung dengan para konsumen. Masyarakat menjadi penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang  kerajinan tangan suku Baduy. Berkat tampil di pameran, maka pemasaran produk kerajinan tangan dari suku Baduy meningkat pesat. Ini tentu saja meningkatkan perekonomian suku Baduy. Satu hal yang bisa dibanggakan oleh Narman.

Apa yang dilakukan Narman telah membuka cakrawala pemasaran kerajinan suku Baduy. Penggunaan internet memberikan  manfaat yang cukup besar. Berbagai produk kerajinan suku Baduy kini bisa dijual secara bebas. .

Internet dan peraturan adat 

Perlu diketahui, ada aturan tersendiri di kawasan Baduy tentang penggunaan internet. Hal ini untuk menjaga keaslian suku Baduy, agar mereka tidak terkontaminasi hal-hal buruk dari luar. 

Pada mulanya, tahun 2016 itu  Narman sudah memiliki telepon genggam. Tapi hanya bisa digunakan untuk berkomunikasi. Dia belum mengenal media sosial. Narman belum paham soal teknologi informasi yang menggunakan internet.

Namun dorongan untuk memasarkan produk kerajinan tangan dari suku Baduy membuat dia mencoba mempelajari  internet secara otodidak. Dari situlah  Narman menemukan inspirasi memperkenalkan produk kerajinan tangan suku Baduy melalui media sosial.

Narman di tengah hutan Baduy (dok.ig.ayahriann)

Narman bercerita,"Saat itu lagi trending bikin akun Instagram. Maka bikin brand yang namanya Baduy Craft. Dengan adanya brand tersebut, produk yang sebelumnya susah dipasarkan menjadi lebih gampang karena pemasarannya yang lebih luas."

Konsekuensinya Narman harus belajar banyak hal. Salah satunya  adalah belajar memotret produk agar tampil menarik. Di sisi lain , dia juga harus  memahami alogoritma Instagram.

Kemudian ia terbentur dengan peraturan adat istiadat suku Baduy. Ia harus memberikan penjelasan kepada tokoh adat tentang apa yang dilakukannya. Narman berusaha meyakinkan tokoh adat bahwa pekerjaan ini memberikan manfaat bagi masyarakat Baduy. Dan dia menjamin tetap menjaga kehormatan adat istiadat suku Baduy.

Bukan hal yang mudah mendapatkan akses internet yang di  wilayah Baduy. Narman dan teman-teman sejawat harus turun ke perbatasan agar mendapat sinyal internet. Setelah sampai di bawah, barulah dia bisa membuat konten. 

Menyabet SATU Indonesia Awards

Keuletan Narman untuk mengangkat perekonomian pengrajin Baduy membawa berkah . Dia berhasil maju sebagai penerima penghargaan Sinergi Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Bidang Kewirausahaan pada 2018. Penghargaan tersebut adalah hadiah tak terduga bagi  Narman. Usahanya selama ini  dijalankan semata- mata untuk meningkatkan ekonomi suku Baduy.

Keluarga dan teman-teman Narman banyak yang membuat produk kerajinan. Tetapi akses pasarnya terbatas. Karena itu melalui Baduy Craft ini Narman membuka pemasaran secara lebih luas.

Apresiasi SATU Indonesia Award bagi Narman menjadi sebuah motivasi besar. Terutama brand Baduy Craft semakin dikenal banyak orang. Ia merasa mendapat suntikan energi untuk berbuat lebih baik. Apalagi dengan persaingan yang semakin tinggi. 

Pandemi memukul Baduy craft 

Sebagaimana situasi di seluruh wilayah  Tanah Air, pandemi Covid 19 yang dimulai tahun 2020 ikut berdampak pada aktivitas perekonomian. Hal itu juga menimpa Narman dalam pengembangan Baduy Craft. Selama pandemi, omzet yang diperoleh menurun drastis.

Beberapa rencana kegiatan pameran yang akan digelar di beberapa daerah potensial terpaksa dihentikan. Begitu pula pesanan melalui marketplace ikut mengalami penurunan. Hal itu berdampak signifikan terhadap permintaan dan penjualan produk.

Boleh dibilang selama dua tahun produk Baduy craft tidak laku. Tapi mereka tidak putus asa. Setelah pandemi berakhir, mereka kembali bangkit. Narman pun menyesuaikan diri dengan perkembangan media sosial.

Sekarang Narman memperluas usaha di bidang wisata. Hal ini sejalan dengan program kemenparekraf yang gencar mempromosikan wisata di dalam negeri. Baduy semakin dikenal oleh masyarakat Indonesia. 

Pemukiman Baduy Luar (dok.pri)




Senin, 09 Oktober 2023

Melihat Alutsista TNI

 

Saya dan penerbang pesawat tempur (dok.pri)

Saya tidak pernah melewatkan kesempatan untuk melihat pameran alutsista TNI. Saya begitu senang dan bangga dengan sistem pertahanan Indonesia. TNI adalah garda terdepan dalam menjaga NKRI. Para prajurit sangat terlatih menghadapi situasi dan kondisi apapun.

Pameran alutsista TNI juga diminati oleh masyarakat umum. Banyak yang membawa anak-anak mereka untuk menyaksikan persenjataan yang dimiliki TNI. Bayangkan antusiasme mereka ketika melihat tank, senapan, replika pesawat dan kapal selam. Meskipun cuaca sedang panas-panasnya, animo masyarakat tetap tinggi untuk menyaksikan pameran alutsista tersebut.

Monas (dok.pri)

Semua jalur ke Monas terbuka. Dari pintu Timur kita akan menemukan jajaran alutsista milik TNI AD, kalau dari pintu Selatan atau patung kuda, kita akan langsung menuju pameran alutsista milik TNI AL. Sedangkan dari pintu Tenggara, kita melewati alutsista milik TNI AU.

Bagi saya, cukup menarik untuk menyimak sejarah yang melibatkan perjuangan prajurit TNI di masa kemerdekaan. Misalnya di tenda TNI AU ada penjelasan tentang pemberantasan pemberontak Permesta. Siapa saja pahlawan yang gugur, kita bisa melihat dan membacanya.

Pilot pesawat tempur (dok.pri)

Pesawat tempur RI bukan hanya dibeli dari Amerika Serikat. Ada juga pesawat tempur buatan Rusia dan Korea. Begitu pula dengan persenjataan seperti pistol, senapan hingga rudal. Walaupun demikian, kita juga bangga dengan buatan PT Pindad. Di sana ada display pesawat pembom yang membawa rudal, dengan awak atau tanpa awak. Sangat menarik melihat para prajurit yang membawa pesawat tempur.

Di tenda TNI Angkatan Laut, kita juga bisa menemukan replika kapal selam. Ada juga kapal selam yang khusus membawa rudal di bawah laut. Marinir, jelas tidak mempunyai tank, karena tidak dibutuhkan di laut. Tetapi mereka adalah perenang dan penyelam yang kuat.

Makan siang marinir (dok.pri)

Asyiknya, di antara tenda-tenda milik angkatan Laut, ada tenda yang membagikan rangsum makan siang. Tepatnya sih, di atas sebuah mobil terbuka yang dijadikan dapur umum. Kita boleh minta jatah makan siang di sini. Pengunjung harus rapi berbaris untuk mendapatkan rangsum ini. Kebetulan saya tidak perlu antre, seorang prajurit langsung mengulurkan satu box untuk saya.

Minggu, 08 Oktober 2023

Mengenal Ridwan Nojeng, Pahlawan Lingkungan dari Rumbia, Jeneponto, Sulawesi Selatan

 

Ridwan Nojeng (dok.jatimnews.com)

Bikin tempat wisata tanpa modal? Nyaris tak mungkin. Namun tidak begitu bagi seorang pria bernama Ridwan Nojeng. Ia tinggal di Desa Tompo Bulu, Kecamatan Rumbia, Jeneponto, Sulawesi Selatan. Bagaimana ceritanya? Ridwan Nojeng memiliki tekad yang besar untuk membangun kawasan wisata alam di desa tersebut dan diberi nama 'Lembah Hijau Rumbia' pada tahun 2014.

Hanya dalam waktu singkat, kawasan wisata tersebut dinilai sukses hingga berhasil menggandeng biro  Traveloka serta Tiket.com. Sebuah kawasan wisata ini sepenuhnya ramah lingkungan. Bangunan yang ada menggunakan kayu dan bambu yang banyak terdapat di desa itu. 

Ridwan Nojeng memanfaatkan  tanah pemberian orang tuanya seluas dua hektar. Sedangkan kayu dan bambu yang digunakan dalam konstruksi merupakan pemberian keluarga dan penduduk setempat. Ia mengajak puluhan pemuda desa bergabung bersamanya. Jadi , boleh dikatakan kawasan wisata dibangun berkat semangat gotong royong. Kemudian Objek wisata alam Lembah Hijau Rumbia (LHR),  kini ramai dikunjungi pelancong wisatawan lokal maupun luar daerah. 

Nojeng pun menceritakan ide awal mula lahirnya  merintis objek wisata di atas lahan seluas dua hektar.

"Mulanya kami rintis tampa modal sepersen pun, hanya modal tenaga untuk meratakan tanah, bersih-bersih, dibantu puluhan pemuda dan sesekali juga warga untuk memindahkan batu-batu besar," kata Nojeng

Membangun sebuah objek wisata butuh ketekunan dan kesabaran. LHR baru bisa diselesaikan 36 bulan. Kerja keras Nojeng dan teman-teman untuk menyulap hutan yang ditumbuhi semak belukar menjadi kawasan wisata alam yang eksotis seperti sekarang ini.

Ridwan Nojeng (dok.tribunnews.com)

Kerja keras itu dirintis tahun 2010. Lalu mulai dibuka tahun 2014.  Seiring berjalannya waktu, sambil mengelola mereka  terus berbenah. Pemasukan dari penjualan tiket digunakan untuk melengkapi fasilitas pengunjung.

Tiga tahun merintis, bukan waktu yang singkat bagi pemuda seperti Nojeng untuk terus berusaha dengan tekad semangat yang dimiliki. Tentu ada berbagai tantangan dan hambatan. 60 pemuda yang semula ikut mungkin jenuh atau kurang yakin, mereka berhenti. Sedangkan yang bertahan hingga sekarang sekitar dua puluhan pemuda. Mereka gigih bekerja sama dan mengembangknan LHR. 

Tidak jarang dirinya dan puluhan pemuda lainnya harus melewati masa-masa sulit untuk mewujudkan impiannya menjadikan LHR sebagai objek wisata yang fenomenal.

Nojeng sempat dianggap gila karena berusaha  memindahkan batu besar hanya menggunakan linggis. Bahkan membuat kolam renang juga dengan linggis. Tapi dia tidak peduli. Prinsipnya jalan saja terus, dimana ada permulaan  pasti ada akhirnya . Kini ia berhasil membuktikan kepada masyarakat. 

Saat ini, hampir tiap pekan objek wisata yang berjarak sekitar 27 kilometer arah utara kota Bontosunggu (ibu kota Jeneponto) itu tidak pernah sepi dari pengunjung. Pada hari kerja, ada lebih dari  50   pengunjung yang datang. Sedangkan wiken Sabtu-Minggu pengunjung yang datang mencapai 300 pengunjung. Harga tiket masuknya  dipatok murah  hanya Rp 10 ribu per orang.

Padahal fasilitas yang ada di dalam lokasi wisata itu cukup lengkap, sangat direkomendasikan untuk refreshing, melepas kepenatan aktivitas kerja sehari-hari. Ada  enam kamar penginapan, delapan gazebo, lesehan bambu, cafe, mushola, dapur alam, camp area, out bond, kolam renang dan live musik.

Namun pencapaian itu belum memuaskan Nojeng. Dia melanjutkan  dengan menyediakan  fasilitas perpustakaan untuk riset dalam kawasan ini. Sebenarnya memang Nojeng bercita-cita membangun wisata pendidikan.

Kegigihan Ridwan Nojeng membangun wisata alam dan memberdayakan pemuda desa, justru mendapat apresiasi yang tak terduga dari Astra. LHR yang mengusung tema "Surga di Tanah Gersang" ternyata memenangkan Satu Indonesia Award (SIA) yang bertemakan "Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia".

Kita harus akui, Indonesia membutuhkan orang-orang seperti Nojeng untuk membangun perekonomian pedesaan, di sisi lain juga menyelamatkan lingkungan. Dengan objek wisata alam ini, hutan menjadi lestari dan terjaga. Oksigen yang dibutuhkan manusia terjamin, serta terhindar dari bencana banjir. Ini penting untuk masa depan Indonesia. 

Ridwan Nojeng (dok.satuindonesia)


Selasa, 03 Oktober 2023

Interaksi Kafe, Tempat Nongkrong Strategis di Margonda

Interaksi kafe, dari roof top (dok.pri)

Sepanjang jalan Margonda Raya berlimpah dengan kafe-kafe. Masing-masing mempunyai keunggulan tersendiri. Ada yang lebih menonjolkan suasana, ada yang menjual cita rasa kopi, dan ada yang menawarkan varian makanan. Dari semua itu, yang paling saya utamakan adalah rasa kopi dan suasana.

Salah satu kafe yang letaknya strategis, adalah Interaksi kafe, yang cuma beberapa puluh meter dari kantor walikota, dan cukup dekat pula dari lampu merah Siliwangi. Kalau dari luar kelihatannya tidak begitu besar, tapi kalau sudah masuk ke dalam terasa cukup luas. 

Bangunan utama tempat memesan makanan dan minuman. Selain kopi, yang terlihat dalam display adalah aneka pastry. Jenis makanan lain ada dalam list, pilih saja yang sesuai isi kantong. Harganya masih terjangkau, antara 25-75 K. Ketika saya datang sore, pesan pizza sudah tidak ada. Akhirnya beli mie goreng, croissant dan aneka cemilan di samping kopi. 

Mie goreng dan cemilan (dok.pri)

Di atas bangunan tersebut ada roof top yang memperlihatkan pemandangan jalan Margonda Raya. Saat musim panas, jangan berada di roof top sebelum jam lima sore. Panas banget. Untung saya datang setelah Maghrib dengan dua teman. Kami pilih tempat duduk di roof top.

Halaman belakang yang luas terdapat banyak tempat duduk, ada yang dari kayu dan ada yang dari semen. Di hadapannya ada panggung untuk live music. Biasanya kalau wiken, ada grup musik yang tampil. Grup musik lokal Depok yang ternyata cukup banyak. 

Panggung (dok.pri)

Mushola terdapat di pojok belakang, cukup bersih dan terawat. Saya senang sholat di sini, tidak terimbas keramaian di halaman tengah. Selain itu ada juga outdoor yang memiliki atap, agar terhindar dari sinar matahari atau hujan. Secara keseluruhan, lebih banyak tempat untuk yang merokok.

Saat malam hari di roof top (dok.pri)

 Kalau saya datang sendiri atau siang hari, saya memilih ruang ber AC. Kadang di samping outlet, tempat memesan makanan dan minuman. 

Minggu, 01 Oktober 2023

Pasteurisasi Susu Ala Hadi Apriliawan

 

Hadi Apriliawan (dok.jpnn)

Tahukah kamu, kesulitan para peternak sapi dan kambing tradisional dalam menjual hasil susu perah? Susunya mudah menjadi basi. Jadi, kalau tidak segera terjual, maka mereka akan merugi, susu basi akhirnya terbuang. Inilah salah satu faktor banyak peternak hidup dalam kondisi perekonomian lemah.

Namun ada seseorang yang memperhatikan kesulitan tersebut. Dia adalah Hadi Apriliawan yang kemudian tergerak untuk melakukan sesuatu.  Dia menciptakan inovasi baru yang dapat mengatasi masalah tersebut . Hadi Apriliawan lalu membuat Sulis, singkatan dari susu listrik, sebuah mesin pasteurisasi listrik yang diklaim sebagai yang pertama di Indonesia.

Apakah yang dimaksud dengan susu listrik? Bukan susu yang mengandung listrik lho. Maksudnya, Sulis yang adalah alat untuk mengolah susu dengan menggunakan listrik. Ternyata alat ini sangat efektif. Alat ini membuat takjub para peternak, apalagi Hadi Apriliawan adalah seorang pemuda yang baru berusia 24. Tetapi ia telah memahami bagaimana kiprah dalam dunia agribisnis.

Sudah ada beberapa contoh mesin pasteurisasi Sulis yang dibuat Hadi di sebuah rumah di Perumahan Pondok Alam Sigura-gura B2-20. Ada yang setengah jadi, ada pula yang sudah jadi. Mesin pasteurisasi Sulis yang pertama berukuran sepuluh liter dan berbentuk kubus dengan panjang sisi masing-masing sekitar 50 sentimeter.

Mesin tersebut berongga dan berbentuk silinder di dalamnya. Pada penutup lubang, ada semacam pipa-pipa besi yang disambungkan ke aliran listrik. Pada sisi yang lain, ada keran untuk mengalirkan hasil output, yaitu susu yang sudah mengalami pasteurisasi.

Cara  kerja mesin mesin itu cukup sederhana. Pertama,  susu segar dimasukkan dalam tabung. Susu segar tersebut lebih dahulu dipanaskan pada suhu 50 derajat Celcius. Proses selanjutnya berupa kejut listrik yang diberikan pada susu. 

"Prosesnya, dinding sel (susu) dimasuki ion-ion hingga muncul gelembung besar besar yang akhirnya lisis (pecah)," jelas Hadi.

Dengan proses tersebut, bakteri-bakteri jahat yang terkandung dalam susu, mulai salmonella hingga escherichia coli akan mati.  Sulis. Bakteri yang selama ini sulit dibunuh dengan cara biasa bisa hilang dengan mesin Sulis. 

Lebih lanjut Hadi menuturkan,"Dengan sistem pemanasan, bakteri akan mati. Tapi, jika susu terlalu lama dipanasi, kandungan gizinya bisa berkurang."

Karena bakteri sudah mati, susu yang dipanasi dengan Sulis bisa tahan hingga enam bulan jika disimpan dalam freezer. Mesin pasteurisasi Sulis berukuran 10 liter tersebut dihargai Rp 12 juta.

Mesin Sulis ciptaan Hadi, ada beberapa macam ukuran. Dia juga mempunyai mesin berkapasitas 250 liter. Ukurannya jauh lebih besar. Mesin tersebut terdiri atas empat tabung dengan diameter 50 sentimeter dan tinggi lebih dari semeter. Cara kerjanya hampir sama dengan yang 10 liter. Mesin ini paling lengkap, ada pemanas dan pendingin  sekaligus.

Pemuda yang lahir di bulan April 1989 itu mengaku bahwa ide untuk membuat mesin tersebut sebenarnya sudah muncul ketika dirinya masih duduk di bangku SMA. Hal itu disebabkan 90 persen keluarga besar, termasuk orang tuanya, adalah peternak. Dia tahu, selama ini  susu dibeli dengan harga yang sangat murah dari peternak.

Anak kedua Tumirin dan Sudarmi tersebut memiliki tekad agar kondisi peternak bisa  membaik. Dengan Sulis, peternak bisa mengolah sendiri produksi susu. Yakni, menjadi produk susu yang siap dikonsumsi dan bernilai ekonomis tinggi.

Fakta di lapangan menunjukkan, teknologi pengolahan susu peternak  masih sangat rendah. Pagi diperah, sorenya susu langsung basi. Hadi pun terus mencari referensi dan melakukan penelitian sejak 2007. Saat itu, dia masih berkuliah di teknologi pertanian Universitas Brawijaya (UB). Kemudian  Hadi menemukan satu referensi menarik, yakni pulse electric field (PEF) atau metode kejut listrik yang digunakan untuk membunuh bakteri pada daging.

Metode itu sebenarnya sudah sering diterapkan di Jepang. Dia pun penasaran, apakah metode kejut listrik tersebut bisa diterapkan pada benda cair seperti susu. Hadi langsung melakukan penelitian. 

Hasilnya, salah satu perbedaan antara kejut listrik benda padat dan benda cair terletak pada voltase. Voltase untuk benda cair lebih rendah. Besaran voltase itu, yang menjadi rahasia perusahaan Hadi. Yang jelas, dia butuh waktu 2-3 tahun untuk melakukan riset mesin Sulis. Dana ratusan juta pun dikeluarkan demi riset tersebut. Dana yang didapat itu berasal dari hadiah sejumlah lomba penelitian yang pernah diikuti.

Setelah melalui berbagai pengembangan, Hadi mulai menjual mesin Sulis sejak 2009 di bawah bendera  PT MaxZer  yang didirikan dia. Ia memproduksi mesin tersebut dan kini sudah dipasarkan ke sejumlah daerah bahkan luar negeri. 

Saat ini, Hadi mempunyai pabrik bertingkat empat di Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Di sinilah setiap harinya ia memproduksi mesin parteurisasi susu dengan menggunakan sistem kejut listrik atau sulis.

Inovasi pria lulusan S-2 Bioteknologi Universitas Brawijaya dan National Pingtung University Taiwan itu, juga mendapat penghargaan SATU Indonesia Award Astra Bidang Teknologi tahun 2016. Bahkan, ia juga masuk dalam ASEAN Entrepreneur Award (AEA) Japan 2016.

Hadi Apriliawan (dok.kompas/Defri Werdiono)