Selasa, 18 Januari 2022

Tipu-tipu ala Kedai yang Bikin Kecewa

 


Beberapa waktu yang lalu saya ke sebuah kedai yang juga merangkap penginapan. Review di Google tampak bagus dengan nilai 4,5. Kami penasaran, mengira bahwa kedai ini memberikan penyajian yang terbaik.

Maka meluncurlah kami ke kawasan Jagakarsa, Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Lokasinya tidak jauh dari kantor kelurahan. Ada sebuah papan nama kecil di depan gang, yang kalau tidak jeli bakal terlewat. 

Ketika kami tiba, agak ragu karena pintu gerbang tertutup. Setelah bertanya pada penjaga, baru dibukakan. Kami pun memasuki halaman sebuah homestay yang terlihat antik karena terbuat dari kayu jati. 

Pintu ruang depan terbuka, resepsionis mempersilakan. Ternyata tuan rumah sudah menunggu di lantai dua, dimana tempat itu digunakan sebagai kafe atau kedai. Dengan menaiki tangga kayu, kami naik ke sana. 

Sekilas tempat ini menyenangkan karena dikelilingi pepohonan rindang. Di sebelah ada kolam ikan dan di belakang ada sungai kecil mengalir. Gemerisik dedaunan membuat kita merasa damai dan tenang.



Namun kenyataannya tidak seindah yang dibayangkan. Room rate untuk kamar-kamar yang disediakan cukup tinggi, di atas Rp.300.000. Padahal kamar-kamarnya sempit hanya memuat ranjang, lemari kayu, meja dan kursi kecil. Untuk kamar terbesar dan termahal, kamar mandinya ada di luar, berbagi dengan penghuni kamar lain.



Dan yang paling mengecewakan adalah makanan yang disajikan. Kami memesan menu tradisional, disediakan garang asem, tahu tempe bacem, urap, ikan pepes dan ayam goreng. Cemilan berupa kacang dan jagung rebus, serta kelepon.

Apa yang membuat kecewa?

1. Makanan tersebut tidak dibuat sendiri, tapi dipesan dari tempat lain sehingga butuh waktu lama untuk menunggu.

2. Makanan tersebut tidak baru, melainkan makanan yang dihangatkan. Mungkin sisa kemarin.

3. Makanan itu rasanya biasa-biasa saja, tidak ada kenikmatan. Malah lebih enak makanan warteg 

4. Si empunya kedai ikutan numpang makan bersama kami. Ini aneh bin ajaib, makanan ini kan kami yang beli. Kok dia ikut makan, sangat tidak beretika.

5. Harganya sangat mahal. Untuk makanan sederhana seperti itu kami dikenai biaya sebesar Rp.230.000. Padahal dengan uang sebesar ini, kami bisa bersantap di hotel dengan makanan yang dijamin lezat.



Dengan halus kami mengorek kenapa kedai ini bisa mendapatkan rating tinggi di Google. Dia mengaku membujuk konsumen untuk memberikan nilai tinggi di atas angka empat. Waduh, ini jelas pembohongan publik. Kalau jujur, maka dia cuma layak diberi bintang satu.


Kami perhatikan sisa makanan kami diberikan kepada staf. Mereka disuruh makan dengan lauk sisa makanan kami. Fix, owner kedai dan penginapan ini sangat kikir. Pantas tidak ada tamu lain yang datang kecuali kami. Sebelumnya dia berkilah pengunjung sepi karena pandemi.

Semula kami mau menayangkan kedai ini di Instagram, tetapi karena sangat mengecewakan akhirnya batal. Sudahlah harus bayar mahal, tidak enak, lalu promosi gratis? No way.

Beberapa kali si owner menghubungi saya minta diupload di Instagram, saya menolak dengan halus. Telepon atau SMS dia tidak saya jawab. 

Mudah mudahan tidak banyak kedai yang seperti ini, jauh dari ekspektasi. Padahal kalau mau meraih pelanggan, seharusnya berbuat yang terbaik, apalagi persaingan begitu tinggi.