Minggu, 01 Desember 2019

Zona Madina, kawasan Terpadu Untuk Kaum Dhuafa


Jumat yang lalu, saya dan teman-teman blogger diundang ke Zona Madina yang terletak di wilayah Parung, Bogor. Kebetulan kawasan ini tidak terlalu jauh dari tempat saya di Depok, tapi saya memang belum pernah ke tempat ini. Parung dalam bayangan saya masih sepi dan rimbun karena sudah beberapa tahun tidak melewati kawasan ini.

Ternyata saya salah, ketika menyusuri jalan raya Parung sudah begitu ramai dengan berbagai kendaraan. Apalagi saat sampai di zona Madina, yang dikelola oleh Dompet Dhuafa. Saya melihat masjid megah, rumah sakit dengan fasilitas lengkap dan sekolah modern untuk kaum Dhuafa.

Acara pertama digelar di halaman dekat kantin, yaitu talk show tentang kanker payudara. Ini sungguh pengetahuan yang sangat berharga, khususnya bagi perempuan karena penyakit ini banyak menyebabkan kematian.

Hadir sebagai narasumber adalah mbak Tania dari Yayasan Gema Peduli Indonesia. Wanita muda yang trenyuh karena tantenya dahulu menjadi korban penyakit kanker ganas ini. Setelah itu ada komunitas Srikandi yang didirikan oleh para penyintas kanker payudara. Mereka bisa bertahan hidup selama puluhan sejak didiagnosis. Selain itu ada dokter-dokter yang expert di bidangnya.

Satu hal yang menarik adalah gerakan SADARI yang diluncurkan oleh komunitas Srikandi, yaitu memeriksa payudara sendiri. Ada beberapa arahan bagaimana kita bisa menemukan apakah ada benjolan yang merupakan gejala dari kanker payudara, sehingga kita bisa memeriksa sendiri.



Usai talk show, kami diajak mengunjungi sekolah untuk kaum Dhuafa yang ada di seberang. Sekolah SMK yang hanya menampung 40 anak setiap tahun dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka diseleksi dengan ketat dan direkomendasikan oleh sekolah mereka sebelumnya.

Di sini fasilitas lengkap, murid-murid dilatih untuk kreatif dan mandiri. Jam belajar mereka sampai dengan pukul 15.00. Cara belajar tidak seperti kelas biasa, karena meja mereka ditata melingkar agar terjadi interaksi aktif antara guru dan murid.



Murid-murid ini ditempatkan dalam asrama seperti pesantren dengan fasilitas yang memadai untuk memenuhi kebutuhan mereka. Pihak sekolah juga memberikan uang saku untuk kebutuhan sehari-hari, bahkan juga ongkos pulang ke rumah sekali setahun. Beberapa alumni sekolah ini sudah ada yang berhasil menjadi dokter.



Kemudian kami meninjau Rumah Sakit Terpadu Dompet Dhuafa. Rumah Sakit ini mengingatkan saya dengan RSCM di Jakarta Pusat. Kaum Dhuafa dilayani dengan baik, semua poli lengkap termasuk untuk ibu dan anak-anak. Untuk rawat inap, tersedia 87 tempat tidur.

Rumah Sakit ini dibangun berkat dana wakaf dari para donatur. Karena itu nama-nama donatur diabadikan di dinding Rumah Sakit. Hebatnya, yang menjadi donatur wakaf tidak terbatas usia, ada yang masih pelajar dan mahasiswa, mereka Istiqomah menyumbangkan uang jajan setiap bulan, besarnya variatif, ada yang sebesar Rp. 15.000 sebulan.



Lorong-lorong Rumah Sakit tampak bersih dan terawat. Ruangan-ruangan diberi nama dengan Asmaul Husna, nama-nama indah dari Allah SWT. Kami melihat ruangan-ruangan tersebut dengan seksama. Di ruangan anak terdapat 11 tempat tidur, yang satu untuk isolasi penyakit menular. Ada pojok khusus yang disediakan untuk bermain, dengan mainan seperti luncuran.

Rumah Sakit ini dalam tahap pengembangan di halaman belakang dengan fasilitas lebih modern karena mendapat sumbangan dana dari negara Qatar. Diperkirakan bisa selesai akhir tahun dan mulai digunakan awal 2020 agar semakin banyak anggota masyarakat yang bisa dilayani. Ada sekitar 40 tempat tidur yang bisa menampung pasien rawat inap.



Acara terakhir adalah mengunjungi lokasi UMKM yang terletak di kampung belakang, lokasinya masuk ke dalam. Kami menggunakan odong-odong menuju kampung tersebut melewati gang yang berliku-liku. Di sana ada lahan beberapa hektar yang digunakan untuk membina ekonomi masyarakat setempat.

Usaha ekonomi yang dijalankan adalah pertanian dan perikanan.  Kami melihat kebun singkong dan beberapa tanaman lain. UMKM di sini ternyata lebih fokus pada perikanan, ada budidaya ikan hias dan ikan konsumsi. Mereka memanfaatkan Setu (danau) seluas 14 hektar untuk budidaya ikan. Beberapa kolam untuk budidaya ikan hias, selebihnya adalah budidaya ikan konsumsi seperti patin dan gurame.



Saya berpikir alangkah bagusnya jika kawasan terpadu ini ada di berbagai daerah di Indonesia sehingga bisa membantu rakyat kecil. Mereka bisa hidup secara layak dan sejahtera. Karena itu seharusnya kita menggalakkan dana wakaf untuk kemaslahatan umat, untuk kemajuan bangsa Indonesia.