Senin, 11 November 2019

Musafir Guest House, Penginapan Syariah di Solo


Baru-baru ini saya dan seorang teman melanglang ke kota Solo atau Surakarta. Dengan menggunakan bus malam, saya tiba di terminal Tirtonadi. Saat itu masih jam dua dini hari, kami langsung pesan grab car untuk menuju Musafir Guest House yang cukup jauh dari terminal.

Musafir Guest House ternyata buka 24 jam. Ketika kami datang, sudah ada petugas yang standby di sana. Halaman parkir berumput kira-kira bisa menampung lima mobil. Memang tidak ada tanda yang menyolok, karena nama "Musafir' terukir di dinding depan (pagar) tanpa hiasan lampu.

Perlu diketahui, Musafir Guest House adalah penginapan syariah bernuansa tempo doeloe. Bangunan utama adalah sebuah rumah yang dibangun tahun 1950 dengan ciri khas bangunan kuno, pintu dan jendela kayu yang lebar, serta teras yang asyik untuk minum kopi. Walau ini penginapan syariah bukan berarti tidak menerima tamu beragama lain, mereka boleh menginap di sana.

Welcome drink tidaklah seperti di hotel modern dengan jus buah atau minuman bersoda. Di atas meja tamu terlihat kendi yang cukup besar dengan beberapa gelas. Saya menuang air kendi itu dan meminumnya, terasa segar. Saya jadi ingat ketika di rumah nenek dahulu.



Namun kami mendapat kamar justru di bangunan baru yang ada di belakang bangunan utama. Kamar kami ada di lantai dua, harus naik tangga. Tidak ada lift karena hanya terdiri dari dua lantai. Bagusnya, baik di lantai satu atau dua tersedia kopi dan teh yang bisa diseduh sendiri. Perangkat cangkir lengkap di atas bufet kecil.

Kamar yang disediakan memenuhi standar sebuah hotel. Fasilitas yang ada; televisi, meja, lemari pakaian dan dua meja pendamping tempat tidur. Kamar mandi juga demikian, dengan sistem shower. Peralatan mandi seperti handuk, sabun dan shampo juga telah tersedia.

Di pojokan gang, depan kamar paling ujung ada bangku panjang dari kayu yang nyaris menempel ke dinding. Di atasnya terdapat beberapa hiasan piring keramik. Terlihat cukup menarik dan bisa dijadikan spot selfie.



Bangunan utama sendiri terdiri dari kamar utama yang luas, dilengkapi dengan kamar mandi yang ada bath tub serta jendela besar yang dapat dibuka untuk melihat taman. Kamar inilah yang paling mahal tapi cocok untuk sebuah keluarga kecil.

Ruang pertemuan ada di belakang ruang tamu, tidak begitu besar dengan meja panjang dan kursi kayu yang bisa digunakan untuk enam hingga 10 orang. Sedangkan ruang makan lebih luas dengan dua pintu, satu menuju depan dan satu menuju belakang. Jendela yang ada di ruang makan ini adalah yang paling besar.



Pada pagi hari, ada sepiring kecil jajanan atau kue-kue yang diantar ke setiap kamar. Satu piring isinya 4 kue untuk satu orang. Ini yang dianggap sebagai sarapan. Sedangkan kopi dan teh, bebas membuatnya sendiri, boleh berkali-kali.

Sayangnya kami tidak sempat mencicipi makanan yang bisa dipesan untuk makan siang atau makan malam. Soalnya tamu sedang penuh, ada rombongan pengantin. Semua staf menjadi sibuk melayani rombongan tersebut.