Rabu, 25 Oktober 2023

Elsa Maharani, Motor Penggerak Kampung Jahit di Padang, Sumatra Barat

 

Elsa Maharani (sumber: Ig @elsamaharrani)

Menjadi pahlawan tidak harus mengangkat senjata. Menjadi pahlawan juga tidak harus seorang laki-laki. Dia yang menjadi pahlawan bisa jadi adalah orang yang berjuang mengangkat derajat masyarakat di sekitarnya. 

Salah satu contoh adalah apa yang dilakukan Elsa Maharani,  perempuan muda berwawasan luas yang berhasil mengentaskan kemiskinan di wilayah Padang. Dia menjadi motor penggerak Kampung Jahit untuk memberdayakan masyarakat di sekitarnya. 

Pada saat pandemi Covid 19 melanda Indonesia, banyak orang menjadi mati kutu. Mereka putus asa karena merasa tak berdaya menghadapi kebutuhan keluarga. Akibat terjadinya PHK massal,  mereka kehilangan mata pencaharian. Hampir tak ada solusi yang membantu masyarakat mengatasi kesulitan tersebut. 

Namun tidak begitu halnya dengan Elsa Maharani. Dengan kecerdasan dan kegigihan yang dimilikinya, dia mampu membawa masyarakat untuk keluar dari lubang jarum. Bahkan kemudian meningkatkan perekonomian dengan cepat. 

Orang boleh menyebutnya sebagai Kartini masa kini. Dia memiliki semangat yang sama untuk menolong sesama, khususnya kaum perempuan. Elsa mendorong kaum perempuan agar lebih produktif berkarya di saat perekonomian lesu. Justru perempuan dapat menyelamatkan keadaan dengan menjadi penggerak perekonomian.

Ajaran Rasulullah  'sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia' (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni), menjadi acuan Elsa Maharani dalam menjalani kehidupan. 

Kampung Jahit

Sebetulnya semua dimulai dari keprihatinan terhadap  masyarakat ekonomi lemah keadaan ekonomi yang tergolong lemah di sekitar tempat tinggalnya. Ia ingin  berkontribusi dalam membangun perekonomian mereka. Lalu Elsa memikirkan  bagaimana caranya supaya para ibu rumah tangga disekitarnya bisa produktif dan membantu perekonomian keluarga tanpa meninggalkan rumah. Elsa berusaha memberdayakan kaum ibu. 

Kebetulan, Elsa dan suaminya Fazri Gufran Zainal mulai membangun usaha sejak 2016. Dengan modal awal Rp 3 juta.  Setelah usaha itu sukses,  ia   mulai berpikir untuk mengubah kampungnya. Bersamaan  dengan hal itu, tercetus ide untuk memproduksi brand sendiri.

" Saya berpikir, apa yang bisa dilakukan untuk mengubah kampung saya?"Elsa.


Ruang produksi (sumber: IG @elsamaharrani)

Kebetulan Elsa Maharani memiliki ketrampilan menjahit. Sebagian ibu-ibu di daerahnya juga bisa menjahit. Elsa lalu merekrut mereka sebagai karyawan. Sedangkan ibu-ibu yang belum pandai menjahit  diberikan pelatihan. Dia berhasil meyakinkan bahwa mereka bisa bangkit memajukan perekonomian dengan keahlian menjahit. 

Usahanya tak sia-sia,  15 orang perempuan yang sebelumnya  berprofesi sebagai pencacah batu kali dan asisten rumah tangga, telah pandai menjahit. Langkah selanjutnya, menjadikan mereka sebagai tenaga produksi hijab yang menjadi konsentrasi bisnisnya. Di sisi lain, Elsa membangun branding produksi hijab sehingga menarik perhatian konsumen dan laris di pasaran. 

Pertengahan tahun 2019, Elsa kemudian memunculkan brand dengan merek Maharrani Hijab. Sebuah brand murni yang lahir dari kota Padang. Ia berharap penduduk setempat tidak perlu membeli produk dari kota lain, misalnya  dari pulau Jawa yang selama ini menjadi sentra produksi garmen.

Meskipun boleh dibilang bahwa Hijab tersebut adalah industri dari daerah yang jauh dari ibukota, tetapi cukup bersaing. Hijab Maharrani yang di produksi Elsa menjamin  kualitas tinggi dengan harga terjangkau. Itulah sebabnya pasaran hijab mampu menembus keluar daerah.

Bisnis ini berkembang pesat. Buktinya, Elsa sudah memiliki 150 reseller dan agen yang memasarkan Hijab Maharrani. Bahkan Elsa berhasil memberikan penghasilan kepada stafnya melebihi UMR di kota Padang.

Sistem produksi

Sistem produksi garmen yang dipimpin Elsa sangat fleksibel, bisa dikerjakan di rumah masing-masing. Mereka akan datang seminggu sekali untuk menyetor hasil jahitan. Upahnya sendiri dihitung per hasil jahitan, yang mana makin banyak jahitan yang dihasilkan, maka makin banyak pula upah yang akan diterima.

"Sistemnya pemberdayaan dari rumah. Bahan-bahan dipoi  dipotong di workshop lalu dibawa dan dijahit di rumah masing-masing. Setelah selesai  baru dikembalikan lagi ke workshop. Di sini awal munculnya sebutan  kampung jahit. Lokasi rumah karyawan yang menjahit berdekatan," jelas Elsa.

Ruang produksi (dok.ig.elsamaharrani)

Jika ada ada yang ingin bergabung tapi tidak mempunya mesin jahit, Kampung Jahit Maharrani akan  meminjamkan mesin jahit untuk dibawa ke rumah. Bahkan, pada awal pandemi Covid 19,penjahit diberi bantuan sembako. Bagi Elsa, siapa pun layak diberdayakan asalkan punya semangat, tekad kuat, serta tekun dalam berusaha.

Kesehatan dan kesejahteraan karyawan sangat diperhatikan. Kampung Jahit Maharrani turut memastikan anggota timnya dalam keadaan fit saat bekerja. Pengecekan kesehatan dilakukan secara rutin, seperti cek tensi, kolesterol, gula darah, dan asam urat. Jika didapati pekerja yang kurang sehat, maka akan langsung dirujuk ke klinik untuk mendapatkan pengobatan.

Selama pandemi, Elsa juga menjalin kerjasama dengan beberapa lembaga. Misalnya dengan rumah Tahfiz untuk membantu anak-anak penghafal Al-Quran. Lalu dengan lembaga permasyarakatan, Elsa memberikan pelatihan agar narapidana bisa membuat pouch, tempat atau bungkus hijab dan mukena. Bahkan menggandeng mahasiswa tata busana untuk membuat masker yang kemudian dibagikan kepada masyarakat. 

Tantangan dan hambatan 

Meskipun begitu, perjalanan Elsa Maharani dalam memberdayakan masyarakat   tidak semulus yang dikira. Banyak kendala yang dihadapi,  baik dari internal maupun eksternal. Namun bagi Elsa, ini menjadi tantangan tersendiri. Dia tidak pernah menyerah. Justru Elsa semakin terpacu untuk menggaet lebih banyak orang. 

Tantangan terbesar bagi Elsa ialah menyatukan timnya yang memiliki latar belakang berbeda-beda. Harus diakui kesenjangan pendidikan dan kualitas sumber daya manusia (SDM) mengakibatkan pola pikir tidak sama satu dengan yang lainnya. Cukup sulit  menanamkan pola pikir kebersamaan untuk kehidupan yang lebih baik.

Elsa dan timnya juga pernah mengalami kesulitan akses lantaran berada di daerah pinggiran. Peralatan dan bahan di Kota Padang tidak lengkap. Hal itu memaksa dia berbelanja harus belanja ke Jawa. Di sisi lain, pengiriman produk ke konsumen pun kurang lancar. Namun Elsa tetap gigih dalam bekerja dan berusaha. 

Komitmen yang sejak awal dibangun demi memberdayakan masyarakat nyatanya membuahkan hasil manis. Dalam waktu 4 tahun berkembang pesat. Kini tempat produksinya menampung total 70 orang,  dengan 20 karyawan dan 50 penjahit. Proses inovasi tak berhenti. Produk yang dijual juga makin beragam, mulai dari gamis, mukena, sarimbit, baju dinas, baju koko, dan masih banyak lagi. 

Elsa dan hasil produksi (dok.ig.elsamaharrani)

Ternyata UMKM yang dibangun di pinggiran kota kini telah menjangkau konsumen  hampir di seluruh Indonesia. Maharrani punya sekitar 125 orang agen dan 250 reseller yang tersebar dari Aceh hingga Jayapura. Ditambah lagi ada sekitar 3.000 member yang tergabung di grup Telegram.

Market Maharani semakin meluas, melakukan ekspansi  ke luar negeri, terutama negara tetangga Malaysia. Maharrani bekerja sama dengan salah satu mal di Malaysia untuk memasarkan produknya. Selain Malaysia, Brunei Darussalam menjadi target berikutnya. 

Mendapat penghargaan

Prestasi Elsa Maharani itu kemudian mendapatkan ganjaran dari Semangat Astra Terpadu (SATU) Indonesia Award. Ia memperoleh penghargaan pada Oktober 2020. Bendera Maharani semakin berkibar berkat  sorotan luar biasa dari media, sehingga brand Maharrani makin dikenal. 

"Masya Allah, waktu jadi pemenang saya terkejut.  Gak nyangka gitu kok bisa menang. Soalnya Maharrani baru 2 tahun berjalan," cerita  Elsa.

Ternyata Astra Indonesia tidak melihat seberapa besar brand itu, tapi melihat seberapa besar value-nya terhadap orang lain. 

Elsa dan keluarga (dok.ig.elsamaharrani)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar