Senin, 11 September 2023

Amilia Agustin, Pioneer Sampah dari Bandung

 

Amilia Agustin (dok.tokohinspirasi.id)

Tahu gak, kalau saya sedang di jalan, sering melihat betapa mudahnya anak-anak remaja membuang sampah. Setelah mereka jajan, sampah jajanan tersebut dilempar seenaknya ke jalan raya, parit, atau sungai. Kadang saya mencoba menegur, tapi tidak digubris, bahkan ditanggapi dengan cengengesan. 

Sungguh seperti embun di padang gersang ketika mendengar ada remaja yang sangat peduli terhadap lingkungan. Dia berusaha meminimalisir sampah di lingkungan sekolah. Seorang gadis remaja yang melawan arus, lebih memilih menyelamatkan alam daripada bersenang-senang sebagaimana remaja lainnya.

Dia adalah Amilia Agustin, 13 tahun lalu Amilia masih seorang pelajar sebuah SMP di Bandung. Hati gadis ini terketuk melihat seorang bapak tua mencuci tangan tak jauh dari  gerobak sampah yang dibawanya.

 Amilia berpikir, jangan-jangan sampah itu berasal dari sekolahnya. "Kalau si bapak sakit, nanti kita kena dosanya". 

Pikiran itu menggelisahkan Amilia sehingga ia menceritakan hal itu kepada guru biologi dan pembimbing ekstrakurikuler KIR. Namanya ibu Nia. Lalu sang guru menyarankan gadis itu untuk datang ke Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB) yang bergerak di bidang pengomposan dan pemilahan sampah. Sejak itulah Ami dan teman-temannya rutin belajar di YPBB. Kemudian mereka terinspirasi  untuk membuat tempat pemilahan sampah organik dan anorganik.

"Pada 2008, kami bikin di tiap kelas kardus-kardus untuk mewadahi sampah organik dan non-organik," cerita Amilia.

Sayang ide tersebut tidak mendapatkan sambutan yang positif. Bahkan gagasan menjadikan kardus sebagai tempat sampah dihina dan direndahkan. Beberapa guru menganggap kardus itu tidak estetik. Karena itu Amilia dan rekan-rekan melapisinya dengan kertas kado. Itupun masih tidak mulus karena siswa laki-laki senang menendang kardus tersebut.

Pengalaman pahit itu membuat Ami dan teman-temannya menyadari bahwa kampanye pemilahan sampah akan sangat berat jika hanya dilakukan segelintir orang. Kemudian Ami punya ide untuk mengampanyekan masalah ini saat Masa Orientasi Sekolah (MOS) di sekolahnya.

Akhirnya , Ami dan teman-temannya membentuk ekstrakurikuler subdivisi KIR yang berkegiatan di bidang pengelolaan sampah di sekolah. Subdivisi itu dinamai 'Sekolah Bebas Sampah' atau 'Go to Zerowaste School'. Anggota subdivisi itu itu perlahan bertambah hingga berjumlah 10 orang.

Ami dan teman-temannya mencari cara untuk 'menyulap' sampah- sampah yang mereka kumpulkan menjadi sesuatu yang bisa digunakan.  Ami teringat seorang teman yang tinggal tak jauh dari sekolah, berasal dari keluarga kurang mampu. Dari kondisi itu, Ami mencetuskan sebuah ide untuk memberdayakan ibu temannya itu untuk mendaur ulang sampah.

Mereka mengajak ibu-ibu itu untuk membuat tas dengan bahan dasar sampah bungkus kopi. Ami juga mengajak mereka untuk mengenalkan produk-produk daur ulang itu saat pembagian rapor dengan cara membuka stan.

Demikianlah semua upaya yang dilakukan Ami dan teman-temannya sejak awal telah menggugah Ibu Nia untuk mendaftarkan mereka dalam kompetisi SATU Indonesia Awards 2010 di bidang lingkungan. Ami menyetujuinya, namun dia mengira itu hanya kompetisi antar anak sekolah yang sudah biasa digelar.

Sampai akhirnya Amilia mendapat undangan ke Jakarta sebagai  kandidat Penerima SATU Indonesia Awards 2010. Pada saat itu Amilia mengira kandidat lain peraih penghargaan itu adalah anak-anak seusianya, namun ternyata dia menjadi kandidat termuda. Saat itu usianya masih 14 tahun.

Ami berhasil terpilih menjadi pemenang Satu Indonesia, penerima Astra Award di bidang lingkungan, serta mencatatkan peraih termuda dalam ajang tersebut. Hebatnya lagi, Ami tak ingin menyia-nyiakan sejumlah dana yang didapat dari penghargaan Dia memanfaatkannya dengan membeli mesin jahit untuk digunakan para ibu yang bekerja mendaur ulang sampah.

Upaya menanggulangi sampah tetap konsisten dilakukan dimana pun Amilia Agustin berada. Bahkan sampai di tempat dia kuliah, Universitas Udayana Bali. Dia mengajak masyarakat di sana untuk memerangi sampah.

Kini Amilia Agustin telah menjadi sarjana dengan predikat cumlaude. Luar biasa, gadis ini layak disebut Pioneer sampah. Dia berhasil memengaruhi orang lain untuk memerangi dan menanggulangi sampah.

Amilia Agustin sekarang (dok.tokohinspirasi.id)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar