Selasa, 04 Desember 2018

Panjat Tebing Gunung Parang Purwakarta, Untuk Kesehatan Jiwa dan Raga



Beberapa waktu yang lalu, saya mengikuti ajakan teman baru di sebuah grup backpacker, yaitu panjat tebing ke gunung Parang, Purwakarta via Feratta. Saya merasa tertantang, padahal waktunya terlalu mepet, hanya dua hari untuk persiapan.

Ini sebetulnya ide gila dan penuh resiko. Sebab, sudah puluhan tahun saya tidak melakukan olahraga pajat tebing dan terakhir naik gunung adalah November tahun lalu. Tapi saya menantang diri sendiri, apakah saya masih sanggup melakukannya dalam usia sekarang dan berat badan yang sudah bertambah banyak.

Akhirnya saya nekad juga, bergabung dengan temanteman baru yang juga tertarik dengan ajakan tersebut. Meeting point di Cililitan, ada tiga mobil disediakan, kami sharing cost masing-masing RP 80.000,-

Berhubung baru berangkat jam 9 pagi, ditambah macet di tol Cikampek, kami baru tiba di kaki gunung sekitar pukul satu siang. Setelah istirahat minum dan makan sekedarnya, kami mengenakan peralatan dan mulai naik pukul dua siang.

Waduh, menuju titik tolak panjat tebing saja, terasa sangat berat, tebingnya curam sehingga kaki yang telah menua ini mulai gemetar. Untunglah sanga pemandu begitu sabar menunggu dan memberi semangat. Sudah bisa diduga bahwa saya berjalan paling belakang.

Maklum, temanteman yang lain sebagian besar masih muda, mereka sepantaran keponakan saya dengan usia di bawah 30 tahun. Tapi ada juga dua wanita yang sebaya dengan saya, dan dua bapak yang lebih tua. Hanya saja mereka telah rajin naik gunung minimal sebulan sekali.

Panjat tebing dimulai, saya melihat batang-batang besi tersusun rapi menuju ke atas. Batang besi ini tempat berpijak sekaligus memanjat. Untuk safetynya, kami harus menautkan tali ke batang besi dan tambang di sisi kiri satu persatu sebelum memanjat satu pijakan.



Uhh, rasanya sangat berat. Saya sempat berpikir, untuk apa saya berada di sini. Saya memberi motivasi bahwa saya masih bisa melakukannya. Kalau yang ini bisa, tentu hal lain juga masih bisa. Maka saya membulatkan tekad untuk terus mendaki.

Mulanya agak mual juga perut ini karena tertekan pada saat mendaki vertikal. Saya minta permen dari teman untuk menghilangkan mual. Setelah itu melanjutkan pendakian.  Beberapa kali kami berhenti untuk mengambil spot foto di tempat yang strategis dan menantang.

Teman yang memegang kamera adalah si pemandu dan satu teman lagi, pemuda yang sudah biasa naik gunung. Ia bahkan membawa tongsis tanpa canggung dan teteap bisa mendaki sambil memegang benda itu.

Untunglah kami tidak memanjat sampai puncak, yang tingginya sekitar 900 meter. Saya tidak akan sanggup. Mayoritas memutuskan hanya setengahnya saja. Kami lalu merambat di tebing dan mengambil beberapa foto sebelum turun.

Akhirnya saya berhasil turun dengan susah payah, maklum paha dan betis sudah terasa sangat berat dan sakit. Itulah akibatnya kalau melakukan panjat tebing tanpa pemanasan sama sekali. Tapi ini merupakan pengalaman yang tak terlupakan.

Setelah makan malan di daerah Plered, kami pun kembali ke Jakarta. Kaki saya masih lunglai ketika naik commuter line menuju Bogor. Duh, bakal butuh waktu lama untuk memulihkannya. Tapi tak mengapa, saya berhasil membuktikan bahwa saya mampu jika saya mau.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar