Senin, 24 Januari 2022

Belum Sreg ke Puncak Tanpa Salat di Masjid At Ta'awun

 


Bagi saya hanya ada satu masjid yang menjadi ikon di Puncak, yaitu masjid Atta'awun .  Saya masih ingat ketika puluhan tahun silam, masjid ini tampak cemerlang dilihat dari bawah. Yup, letak masjid ini memang berada di atas, menghadap lembah. Kita bisa ke sana melalui jalan yang meliuk indah.

Sayangnya kelok jalan yang indah dan  masjid fenomenal ini sudah tidak terlihat karena tertutup pepohonan. Tidak mengapa sih, karena pohon-pohon itu penting untuk menjaga agar tidak longsor. Masjid itu tetap dicari oleh masyarakat sebagai tempat ideal. 

Di halaman parkir luas yang ada di bawahnya, biasa terdapat banyak pedagang makanan. Saya pernah membeli strawberry dan mochi dari pedagang asongan. Tetapi sekarang kabarnya ada oknum yang menarik tarif parkir sangat mahal. Begitu pun makanan yang dijual digetok harga tinggi.

Terlepas dari itu, perkembangan masjid ini sebagai ikon puncak memang selaras dengan kunjungan para wisatawan. Semula bangunan masjid berbentuk sederhana, dan tidak bisa menampung banyak jamaah.

Masjid Atta'awun berlokasi di Jalan Raya Puncak, Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat merupakan masjid yang sederhana yang diperuntukkan kepada pekerja kebun teh di PTPN Nusantara VIII.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat sekitar juga menggunakan masjid sebagai sarana ibadah dan kegiatan agama lainnya, karena saat itu masyarakat sekitar tidak mempunyai tempat sarana ibadah yang layak. Melihat kondisi ini maka PTPN Nusantara VIII menghibahkan masjid tersebut dengan luas tanah kurang lebih 10.000 m2.

Masjid Atta'awun pada awalnya bernama Masjid Al Muttaqin. Perubahan nama yang tidak terlepas dari sejarah pembangunan masjid ini sendiri. Nama Atta'awun diambil dari bahasa Arab, Ta'awana, Yata'aawuna, Ta'awuna, yang artinya tolong-menolong, gotong-royong, bantu membantu dengan sesama manusia.

Pembangunan masjid ini dipantau oleh Gubernur Jawa Barat saat itu yaitu HR Nuriana..  Setelah itu HR Nuriana mengadakan rapat dengan beberapa pejabat di Jawa Barat seperti Bupati Bogor, Walikota Bogor, Bupati Cianjur, Bupati Sukabumi, bahkan sampai ke Banten yang kemudian disepakati oleh para pejabat tersebut.

Untuk dana untuk pembangunan masjid, HR Nuriana mengusungkan rereongan sarumpi yang artinya mengumpulkan dana dari sumbangan seluruh masyarakat Jawa Barat. Setiap kepala keluarga dari rumah ke rumah menyumbangkan uang sebesar Rp100, hingga terkumpullah sampai 34 miliar untuk membangun sebuah masjid yang layak dan representatif.

Dana yang terkumpul sebesar itu ternyata kurang. Hal itu disebabkan adanya krisis moneter pada saat itu dengan ditandai harga-harga bahan bangunan yang melonjak naik sampai berkali-kali lipat dari harga awalnya sehingga biaya pembangunan menjadi membengkak.

Pemerintah pada saat itu mengumpulkan kembali uang sumbangannya, hingga akhirnya terkumpul dana sebesar 65 miliar, kemudian pembangunan masjid dimulai pada tahun 1997 dan rampung tahun 1999.

Setelah pembangunannya rampung Masjid Atta'awun menjadi salah satu tempat ibadah yang paling banyak dikunjungi, selain digunakan sebagai tempat ibadah. Lokasinya strategis untuk beristirahat setelah melakukan perjalanan.

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan salat di masjid ini lagi setelah lama tidak melewati puncak. Rasanya bahagia dan senang bisa ke sini lagi. Jalur puncak yang macet membuat saya berpikir berulang kali jika harus melewatinya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar